Tuesday, December 19, 2006

Tak kenal maka tak benci ???

Bismillah...
Alhamdulillah... Selawat & salam hanya untuk baginda SAW...

Aku suka mendengar nasyid-nasyid lama, yang punyai mesej yang lebih bermanfaat daripada nasyid-nasyid kontemporari, yang kebanyakan membawa mesej cinta remaja. Biarlah siapa pun yang mahu mengatakan aku ketinggalan zaman ataupun kolot, tapi aku tetap mempertahankan pendirianku.

Adapun nasyid-nasyid lama ini juga ibarat satu nostalgia buatku, mengingatkan aku dikala aku masih kecil. Tak kurang juga nasyid-nasyid ini masih menggunakan peralatan-peralatan muzik yang dibenarkan syara' serta boleh aku katakan sebagai original, tidak seperti nasyid-nasyid kontemporari yang menggunakan peralatan-peralatan yang canggih.

Pagi tadi, selepas subuh, aku mendengar salah satu nasyid yang bagi aku mengingatkan aku kepada sesuatu yang aku kenal, dan menjadikan aku lebih benci kepadanya....

Aku kongsikan di sini lirik dan nasyid tersebut....

_______________________________________________________________

Tersebut Al-kisah,
Syaitan penggoda, syaitan durjana,
Nabi Adam & Hawa,
Ditipu daya, tersingkir ke dunia.(1)

"Aku berasal daripada api"
Syaitan mendabik dada
"Sedang Adam berasal dari tanah,"
"Aku lebih mulia" (2)

Alangkah kejinya kedegilan dan keangkuhannya,
Ia menentang Tuhan, melalui Adam hamba-Nya. (3)

Awas manusia janji syaitan kepada kita,
Menggoda insan dari awal hingga akhirnya, (4)
Janganlah leka hindarilah tipu dayanya,
Syaitan pendusta, ia anak neraka. (5)

Nasyid bertajuk Awas Penggoda daripada kumpulan Suara Firdaus
_______________________________________________________________

(1) Bagaimanakah Nabi Adam Alaihissalam & Hawa ditipu daya hingga tersingkir ke dunia?

Firman Allah :

Baqarah : 36

36. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu[38] dan dikeluarkan dari keadaan semula[39] dan kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."

[38] Adam dan hawa dengan tipu daya syaitan memakan buah pohon yang dilarang itu, yang mengakibatkan keduanya keluar dari surga, dan Allah menyuruh mereka turun ke dunia. yang dimaksud dengan syaitan di sini ialah Iblis yang disebut dalam surat Al Baqarah ayat 34 di atas.

[39] maksud keadaan semula ialah kenikmatan, kemewahan dan kemuliaan hidup dalam surga.


A'araf : 20-22

20. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".

21. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua",

22. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya Telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?"


(2) Syaitan yang bangga dengan dirinya.

A'araf : 12

12. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" menjawab Iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".


(3) Syaitan mengingkari perintah Allah.

Baqarah : 34

34. Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

[36] sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, Karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.

A'araf : 11

11. Sesungguhnya kami Telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, Kemudian kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", Maka merekapun bersujud kecuali iblis. dia tidak termasuk mereka yang bersujud.

(4) Apakah permintaan Syaitan kepada Allah SWT & janjinya kepada manusia?

A'araf : 14-16

14. Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya[529] sampai waktu mereka dibangkitkan".

15. Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."

16. Iblis menjawab: "Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,

[529] Maksudnya: janganlah saya dan anak cucu saya dimatikan sampai hari kiamat sehingga saya berkesempatan menggoda Adam dan anak cucunya.

A'araf : 17

17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

(5) Peringatan Allah kepada manusia.

Dalam surah Al-A'araf : 22 Allah telah memperingatkan manusia yang sesungguhnya syaitan itu merupakan musuh kita yang nyata. (Rujuk ayat & terjemahan di atas)

____________________________________________________________________________

Mungkin ada sahabat-sahabat yang lebih mengenali 'mereka' ini... Aku hanya sekadar mengingatkan kita untuk menyuburkan lagi rasa benci kita kepada 'mereka' , agar tidak lagi ditipu daya....

Wallahua'alam...

Ya Allah,
Tiadalah tempat lain bagiku untuk memohon perlindungan melainkan pada Mu,
Lindungilah hamba-Mu ini daripada perasaan yang dicipta oleh hawa nafsu & bisikan syaitan...

Amiiin....


-Syphoon-
Irbid, Jordan
1600, 28 Zulkaedah 1427

Sunday, December 17, 2006

AKSES PEMIKIRAN ISLAM (API)





Bismillah...
Alhamdulillah... Selawat & salam atas Baginda SAW....

AKSES PEMIKIRAN ISLAM (API)

Objektif:

Merupakan akses ( satu cara memperoleh maklumat ) berkaitan aspek ilmu asasi Islam kepada Mahasiswa di Jordan yang dirangka MPPM. Bertujuan melahirkan golongan yang sanggup berbakti kepada masyarakat dengan ilmunya. Juga menunjukkan semangat yang berkobar-kobar motivasi aqidah yang murni

Pengenalan :

Akses Pemikiran Islam (API) merupakan salah satu program di bawah Nadwah Ulama' & Ilmuan Muda (NUIM) anjuran Majlis Perwakilan Pelajar Malaysia (MPPM) Jordan.

Program ini diwajibkan di semua mantiqah, bermaksud semua Persatuan Zon (PZ) wajib melaksanakan program ini.

Berikut merupakan butiran berkenaan API yang akan diadakan oleh pihak Persatuan Mahasiswa Malaysia Irbid (PERMAI) Jordan :

Tarikh/Hari:
Jumaat
1 Zulhijjah 1427 bersamaan 22 Disember 2006

Masa :
8.30 pagi - 2.30 petang

Tempat :
Dewan Al-Farabi, Universiti Yarmouk

Sasaran :
Para mahasiswa Tahun 1 & 2

Tentatif Ringkas :

Pembentangan Kertas Kerja 1 :
Aqidah Islamiyyah : Tasawwur & Implikasi
oleh :
Ustaz Wan Yusrizal bin Wan Shafie
Presiden MPPM Jordan

Pembentangan Kertas Kerja 2 :
Konsep Nasihat & at-Ta'awun dalam Islam
oleh :
Dr. Muhammad Amin bin Tunai Shamsidi
Timbalan Presiden PERMAI

Diskusi secara berkumpulan

Meskipun sasaran yang telah ditetapkan oleh pihak MPPM adalah mahasiswa & mahasiswa tahun 1 & 2, namun penyertaan tetap dibuka kepada seluruh warga PERMAI yang berminat.

Butiran mengenai program akan dikemaskini dari masa ke masa.

Pendaftaran adalah percuma. Mana-mana warga PERMAI yang berminat bolehlah mula mendaftar dengan menghantar e-mel/YM ke permai2004@yahoo.com.

InsyaAllah sarapan pagi & makan tengahari akan disediakan pada hari program diadakan.

Pihak PERMAI mengharapkan komitmen & kerjasama yang padu daripada seluruh warga PERMAI dan segalanya pihak PERMAI dahului ucapan ribuan terima kasih.


Wallahu'alam...

untuk maklumat lanjut bolehlah menghubungi :

Presiden PERMAI - syababul_jabal@yahoo.com
YM PERMAI - permai2004@yahoo.com


-Syphoon-
Irbid, Jordan
1426, 26 Zulkaedah 1427

Sunday, December 10, 2006

Resolusi

Bismillah...
Alhamdulillah, segala-galanya hanya untuk-Mu, selawat dan salam ke atas junjungan besar, Muhammad SAW...

Resolusi merupakan satu perkataan yang lebih advanced berbanding kesimpulan. Resolusi merupakan satu kesimpulan, yang disusuli dengan tindakan, ataupun kesimpulan yang praktikal. Kita belajar sesuatu hari ini dan membuat kesimpulan. Tapi kesimpulan tersebut tidak boleh dipraktikkan, maka kesimpulan tersebut bukanlah satu resolusi.

Perbincangan kumpulan MEKAP ku tempoh hari telah membawa beberapa resolusi yang menarik, dan ingin aku kongsikan bersama di sini.


1- "Improvement itu mesti, tapi bagaimana? " soal hati kecilku.
Berdasarkan hadith ke-11 dalam Hadith 40 susunan Imam Nawawi, yang mafhumnya, "Hendaklah kita tinggalkan perkara yang diragui kepada perkara yang kita yakini". Kita menjadi yakin apabila kita punyai pengetahuan mengenai perkara yang kita ragui.

Misalnya, aku meragui apa yang dibawa oleh A dalam begnya, lalu aku bertanya pada A, "Apa yang ade dlm beg hang tu?" dan A memberikan jawapannya dengan menunjukkan apa yang ada dalam begnya. Maka aku tahu dan kini aku yakin apa yang ada dalam beg si A itu tadi.

Atau contoh lain, dalam exam, ketika aku menjawab soalan, aku meragui apa yang aku jawab, lalu apabila selesai, aku membuka buku dan membaca, mencari jawapan untuk soalan tadi. Bermakna aku membaca untuk menambah pengetahuan, dan menjadikan aku lebih yakin dengan jawapan aku itu tadi, yakin sama ada apa yang aku jawab itu betul, atau yakin dengan apa yang aku jawab tadi adalah salah. Andai aku tidak mahu membuka buku, aku bertanya pada classmateku.

Untuk improve dalam second exam, aku harus meningkatkan pembacaanku. Meningkatkan pembacaan dapat meningkatkan ilmu pengetahuan. Sifir yang mudah, tingkatkan pembacaan = tingkatkan ilmu pengetahuan.

Begitu juga dengan amal Islami, bagaimana untuk improve? Salah satunya dengan meningkatkan ilmu pengetahuan. Aku meragui solatku, "Sempurna ke x aku solat tadi? Ada kotor-kotor sket kat seluar aku ni" , lalu aku rujuk pada orang yang sepatutnya, senior-senior aku yang belajar mengenai Feqah di Universiti Yarmouk. Aku mendapat ilmu yang baru, menjadikan aku lebih yakin, sama ada solatku tadi, sempurna atau tidak.

2- Selepas improve, apa pula? Konsisten.

Katakan aku mendapat 30/30 dalam first exam, apa yang perlu aku lakukan? Teruskan sahaja dengan cara study ku itu. Andai cara tersebut berkesan, maka aku seharusnya teruskan secara konsisten.

Begitu juga dengan amal Islami. Bukan sahaja perlukan pada improvement, tetapi perlu juga kepada konsistensi. Sebagai contoh, aku yang semalamnya solat berjemaah 4 waktu di masjid, dan hari ini, Alhamdulillah, aku telah berjaya untuk solat 5 waktu berjemaah di masjid. Tapi selepas itu, apa lagi? Hendak bersolat 6 waktu di masjid? Apa yang perlu aku lakukan adalah konsisten dalam menunaikan solat 5 waktu berjemaah di masjid.

Atau, hari ini aku menghadiri program Introspeksi Iman, yang berlangsung selepas Isya', maka aku seharusnya konsisten untuk menghadiri program tersebut. Ada juga aku lihat sesetengah orang, yang hari ini telah solat cukup 5 waktu berjemaah di masjid, esoknya tidak mahu solat berjemaah, dek kerana tidak tahu apa lagi yang hendak di improve kan. "Xpe je, hari ni dah cukup 5 waktu , sok xyah pun xpe la...xde mende nak upgrade dah lusa kalo hari-hari same je..." Ah...cetek sungguh pandangan tersebut. Tapi itulah realiti!

Dua resolusi yang kumpulan MEKAP ku gapai ini aku kongsikan di sini, mudah-mudahan menjadi panduan untuk kita IMPROVE dan KONSISTEN bukan sahaja dalam kehidupan dan pembelajaran, malahan dalam kita mengamalkan amal Islami kita.

Wallahua'alam

Ya Allah,
Tambahkanlah pengetahuanku & Kurniakanlah aku kefahaman...
Berikanlah aku kekuatan agar aku terus istiqamah di jalan-Mu...

Amiiiin...

-Syphoon-
Irbid, Jordan
1527, 19 Zulkaedah 1427

Saturday, December 09, 2006

Self-Improvement

Bismillah...


Hadith ke 11 - Matan 40 An-Nawawiah


Alhamdulillah... dikala ini aku masih bernafas, masih dipancarkan oleh-Nya Nur Iman dan Nur Islam. Selawat dan salam untuk junjungan besar Muhammad SAW...

Selasa lalu, pintu rumahku diketuk oleh jiranku, saudara x_mummy, kartunis terkenal Al-Qalam. Mulanya aku tidak mahu membuka pintu selepas aku bertanya "Sape kat luar tu?" dan dibalas dengan "saya". Amat pantang aku sekiranya aku bertanya sedemikian dan dijawab sebegitu rupa. (1)

Kedatangan x-mummy menghulurkan makalah Al-Qalam keluaran terbaru. Tajuk Self-Improvement yang menjadi fokus utama Al-Qalam bulan ini, pada mulanya tidak menarik minatku. Malam itu, aku sekadar mengambil dan meletakkan makalah tersebut di atas meja tulisku.

Malam sebelum itu, saudara waruza atau lebih dikenali dengan Che Mi, menegurku. "Nak bincang ape Khamis ni?" Ligat otakku berputar, mencari idea. "Kita bincang hadith la plak Che Mi.." Dan malam itu aku membuka file Hadith 40 di dalam komputerku, mencari hadith yang ringkas untuk diberi tugasan kepada ahli-ahli MEKAP ku.

Secara spontan, aku memilih hadith di atas. Aku buzz "YM" Che Mi dan menyatakan ideaku itu. Pada awalnya, memang aku tidak berfikir panjang, hanya mencari mana yang sesuai, lantasku "petik" sahaja daripada Matan 40 tersebut.

Hadith yang bermaksud, "Tinggalkanlah apa yang meragukan engkau, kepada apa yang tidak meragukan engkau". Secara zahirnya, hadith ini berkaitan dengan hadith yang menyatakan hal-hal syubhah (2). Ataupun mafhum hadith ini adalah "Tinggalkan apa yang kita ragui, kepada apa yang lebih kita yakini".

Aku cuba mencari sesuatu yang tersirat disebalik hadith ini. Secara tidak langsung, hadith ini menunjukkan pada kita supaya membuat satu improvement pada diri kita. Meninggalkan perkara yang diragui, kepada perkara yang diyakini, merupakan satu improvement.

Mafhum firman Allah : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum itu, melainkan mereka sendiri yang mengubahnya". Salah satu dalil naqli telah ku dengari sejak aku berada di tingkatan 1. Cuba ku kaitkan dengan pembelajaranku yang lain, semuanya berbalik kepada faktor KEMAHUAN. Aku tahu aku harus berubah, namun jika tiada kemahuan, semuanya hanya sekadar angan-angan.

Ya, improvement memerlukan satu kemahuan, apatah lagi kiranya improvement itu SELF-IMPROVEMENT. Takkan aku mahu pepatah Melayu, "Sudah terantuk, baru tengadah"(tolong betulkan kalau pepatah ini silap) ? Atau lebih mudah jika aku katakan dalam ertikata seorang pelajar, TAKKAN DAH FAIL BARU NAK SEDAR?

Saidina Ali R.A pernah berkata, "Beruntunglah mereka yang hari ini lebih baik daripada semalam, dan celakalah mereka yang hari ini lebih buruk daripada semalam" Seorang muslim atau seorang mukmin, tidak akan melakukan kesilapan berulang kali. Pengajaran semalam dijadikan batu loncatan untuk terus berjaya pada hari ini. Tapi, syaratnya, mahu. Mahu belajar daripada kesilapan semalam. Tiada kemahuan, tidak akan memberi keMAMPUan untuk tidak mengulangi kesilapan semalam.

Sistem penilaian di Jordan, berbentuk Multiple Choice Question (MCQ). Penilaian dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu semester. Aku boleh katakan seawal aku sampai dahulu, "Alah...MCQ je, takyah baca susah-susah la..." Tapi kini aku mengerti, walaupun MCQ, namun soalan-soalan boleh tahan juga. Aku juga pernah mengeluh, kerana terlalu banyak exam, 3 kali penilaian 1 semester, kalau ada 5 subjek, maknanya 15 penilaian yang aku harus hadapi 1 semester.

Sebenarnya, sekiranya aku bersikap optimis, penilaian 3 kali 1 semester memberikan peluang kepada aku untuk aku improve. Andai exam pertama aku mendapat markah yang rendah, maka untuk exam yang kedua, aku sepatutnya study lebih kuat untuk skor. Begitu juga sekiranya berlaku pada exam yang kedua, aku masih diberi peluang dalam final exam. Alhamdulillah...

Andai aku buka skop ini kepada satu ruang yang lebih besar, dapat aku kaitkan dengan kehidupan harian ku. Boleh aku hitung, "Semalam pegi solat jemaah kat masjid 2 kali je...hari ini mesti pegi 3 kali kalo xde pape aral melintang". Senang sahajakan matematik ini? Atau "Semalam xpegi introspeksi Iman...hari ini, xkan xnak pegi lagi kot?"

Andai untuk exam, ratusan muka surat boleh aku baca, berjam-jam masa boleh ku luangkan, tapi kenapa untuk Allah tidak boleh aku korbankan 15 minit ku untuk sujud menyembah-Nya? Takut dengan 15 minit itu jika aku membuat perkara lain aku akan gagal dalam exam?

Islam tidak pernah mengajarku yang kejayaan yang berfaktor daripada usaha semata-mata. Semuanya berpunca dari Allah. Segala-gala milik-Nya. Andai exam yang susah itu dapat aku improve, daripada 15/30 untuk first exam kepada 25/30 untuk second exam , kenapa tidak dengan amal Islami ku? (3)

Improvement kehidupanku di dunia ini haruslah berkadar langsung dengan kehidupan di akhirat kelak. Tiada guna andai kedua-dua berkadar songsang. Tidak kira aku improve di dunia tapi gagal untuk kehidupan akhirat, ataupun sebaliknya....

Ya Allah,
Selamatkanlah kehidupanku di dunia, dan selamatkanlah juga aku di akhirat kelak, daripada azab api neraka-Mu...

Amiiiin...

Wallahua'alam...

-Syphoon-
Irbid, Jordan.
1405, 19 Zulkaedah 1427

(1) Hadith ke 877 - Riyadhus Solihin
-hadith ini memberikan penjelasan bahawa Rasul SAW tidak menyukai apabila seseorang itu ditanya "Siapa?" dan dijawab dengan "Saya". Hadith yang ke 876 menunjukkan salah seorang ummul mukminin, apabila ditanya oleh Rasul SAW "Siapa?" dan dia menjawabnya dengan menyatakan namanya.


(2) Hadith ke-6 - Hadith 40 susunan Imam Nawawi
(3) Hadith ke-19 -
Hadith 40 susunan Imam Nawawi
-Hadith ini menyuruh kita untuk memelihara hak-hak Allah, dan sebagai ganjarannya, Allah akan memelihara hak-hak kita.

Saturday, December 02, 2006

Mahu tetapi Malu...

Alhamdulillah...Selawat dan Salam ke atas junjungan besar Muhammad SAW...

Firman Allah :Surah Al-'Alaq : 6 - 19


Sungguh panjang malam ini... 12 Zulkaedah 1427... Bermula selepas Isya' , aku telah membuang masaku di hadapan komputer, menatap telefon bimbitku yang bermasalah, menekan itu dan ini. Masa berlalu begitu pantas. Sedar-sedar sudah jam 2300. Cuba untuk aku tidur, tetapi mataku masih tidak mahu terlelap. Mungkinkah sudah puas lena di siang hari?

Sedang aku mundar-mandir di dalam bilikku, mencari 'mood' untuk aku tidur, teringat aku akan perjumpaan MEKAP kali pertama, Khamis lalu. Lantas aku mendapatkan buku catatanku di atas meja untuk melihat apa yang boleh di follow up untuk akan datang.

"Kita selalunya baca surah Al-'Alaq ayat 1-5, dan kita terlepas pandang pada ayat yang seterusnya sehingga akhir tu." Begitulah lebih kurang briefing yang diberikan oleh Presiden PERMAI 4 hari sebelum itu. Tersentak aku ketika itu, kerana aku turut berada dalam golongan tersebut, yang terlepas pandang.

Surah Al-'Alaq, pada awal menceritakan akan kepentingan ilmu, manakala bahagian yang lain menceritakan perihal mereka yang beramal dan menyebarkan ilmu itu. Halangan yang akan ditempuhi oleh mereka yang bergelar dai'e dan panduan bagi golongan tersebut.

Ligat fikiranku berputar... Mengaitkan dengan realiti yang hakiki. Golongan yang manakah aku berada? Teringat aku ketika aku berada di sekolah menengah "Aku bukan xnak ... tapi segan ar..satgi orang kate ape plak kan... Bukan org je yg kate...ko pun kate aku skalik nanti..."

Dalam kita beramal & menyampaikan ilmu, sudah tentu akan ada yang menghalang. Bukanlah halangan itu untuk memberhentikan kita, tetapi untuk menguatkan lagi keazaman kita. Akan ada satu golongan, yang sanggup berkumpul menggembleng tenaga, mengerahkan keringat bagi menggagalkan kita.

Di golongan manakah aku berada? Teringat aku akan satu hadith yang mafhumnya : Jauhilah hasad, sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan, sebagaimana api memakan kayu (1) Andai aku berada di golongan yang yang cuba menghalang kebaikan & penyebaran ilmu itu, bermakna aku berada di dalam golongan yang hasad. Kenapa? Kerana aku tidak mahu orang lain melakukan kebaikan melebihi aku, tidak mahu orang lain ilmunya melebihi aku, bimbang-bimbang aku ditegur disebabkan kejahilan aku tersebut.

Teringat aku sesi usrah yang aku sertai satu masa dahulu, seorang sahabatku menyatakan, Imam Ghazali mengatakan yang hasad ini terbahagi kepada 3
1- Seseorang itu mahukan orang yang punyai kebaikan/kelebihan itu lenyap, dan dia mahu kebaikan/kelebihan itu datang kepadanya
2- Seseorang itu mahukan orang yang punyai kebaikan/kelebihan itu lenyap, dan dia mahu menilai dahulu sama ada kelebihan/kebaikan itu sesuai atau tidak dengan dirinya. Sekiranya sesuai, dia akan menerimanya.
3- Seseorang itu, tidak mahu orang lain sama/setaraf atau melebihinya. Dan golongan inilah yang paling teruk berbanding dua golongan yang sebelumnya.

Pernah satu ketika dahulu, aku tergolong dalam mereka yang bersikap hasad ini. Aku tidak mahu mengikuti Tamrin, malah aku mengajak dan menghasut beberapa sahabatku yang lain untuk escape . Aku tidak mahu membaca Ma'thurat selepas Asar, lantas aku mengajak sahabat-sahabatku untuk turun ke dewan bermain badminton seawal yang mungkin. Bukan sahaja aku tidak mahu untuk diriku, malah aku juga tidak mahu sahabat-sahabatku yang rapat denganku untuk beroleh kebaikan tersebut.

Tidak cukup dengan itu, aku berkata belakang... "Pigi dah dia tu...bajet sikah je...tau la KP...padahal dulu time f4 same je dgn aku... Naik f5 mentang2 jadik KP byk bunyik plak..." Mengapa susah untuk aku menerima seseorang itu berbuat sesuatu yang baik, atau seseorang itu berubah kepada yang lebih baik?

Maksud firman Allah :

11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Surah Al-Hujraat : 11)

Sikap aku yang dahulu inilah yang menjadikan golongan dai'e yang MAHU bekerja ini MALU. MALU yang membawa kepada TIDAK MAHU. Adakah aku mahu segala kebaikan aku itu dimakan oleh perasaan hasad seperti mana dalam hadith di atas?

Pernah juga aku berasa tidak lagi mahu untuk beramal dengan amal Islami ini, apabila aku dikatakan seorang hipokrit "Alah, dia tu, ajak orang buat baik, tapi blakang...xyah ckp ar, movie lagha tgk gak.." kerana aku rasakan yang lagha itu lebih mudah dan lebih selesa bagi aku. "Kalo aku terus buat amal Islami, aku kene tinggalkan movie-movie aku ni... xbest la plak...boring2 nnt nk buat ape?" pernah hati kecilku berbunyi sedemikian...

Andai aku berada di dalam golongan yang menyebarkan ilmu, maka Allah dalam ayat yang terakhir Surah Al-'Alaq,menyatakan supaya aku terus meneguhkan hati dan sentiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Sesungguhnya andai terdapat golongan yang cuba menghalangku, maka tiada satu pun yang dapat memberikan mudharat kepadaku (2)

Ya Allah...
Sesungguhnya aku berlindung pada-Mu daripada menjadi hamba-Mu yang engkar ,
Janganlah Kau jadikan aku tergolong dalam golongan mereka yang benci kepada agama-Mu,
Teguhkanlah hati ini agar sentiasa berada dalam jalan dakwah-Mu...

Amiiin...

Wallahu a'alam...

-Syphoon-
Irbid, Jordan
0438 , 12 Zulkaedah 1427



(1) Hadith ke 1569, Riyadhus Solihin - Hadith ini merupakan hadith dhaif
(2) Hadith ke 19, Hadith 40 susunan Imam Nawawi

Wednesday, November 29, 2006

Air & Batu

Alhamdulillah... Selawat & Salam ke atas junjungan besar Muhammad SAW...

Terimbau aku kenangan semasa di sekolah menengah dahulu...Tika aku berada di tingkatan empat. Jalan antara Warung Wak Kanang & Masjid Sultan Sulaiman, iaitu Jalan Raja Jumaat, boleh dikatakan setiap hari Sabtu aku akan ke sana, menikmati Air Batu Campur (ABC) atau lebih dikenali dengan Ais Kacang.

Rasa Air Batu Campur tersebut masih tidak boleh ku lupakan. Ahh...sungguh lazat... Air batu yang dikisar, dicampur kacang, dilumuri dengan susu & sirap...Semuanya cukup, secukup rasa, dimakan bersama rojak yang pedas...Masih tidak dapat ku lupakan hingga kini...

Dahulu ketika aku kecil, sering bermain di fikiranku, "Air batu campur? ABC? Diorang campur air dengan batu ke?" Begitulah fikiran seorang yang berumur 5 tahun apabila disoal "Adik pernah makan Air Batu Campur tak?"

Sungguh pun perkara itu telah lama berlalu, dan aku kini mengenali apa itu Air Batu Campur, aku masih berfikir akan sesuatu sejak dari umurku 5 tahun itu. "Bagaimana batu boleh jadi lembut kalo letak air?"

Teringat aku sebuah nasyid yang ku dengar di akhir tahun 90-an...

Batu yang keras,
Air yang lembut,
Dua kejadian amat berbeza,
Tiada siapa dapat menyangka,
Air yang mengalir, dingin di kali
Berupaya melembutkan batu,
Kesannya menjadi ilhamku...

Pernah ku saksikan satu dokumentari National Geographic yang menunjukkan batu-batu di sebuah gua, terhakis dek kerana titisan air yang menghempas batu tersebut. "Jadi betullah air ni boleh jadikan batu ni lembut" ujar hati kecilku yang pada ketika itu berumur 13 tahun.

Andaikan, hati manusia ini sekeras batu, jadi apakah yang dapat melembutkan hati? Teringat lagi aku akan rangkap-rangkap dalam nasyid tersebut...

Umpama kejadian hati dan zikir,
Hati bisa jadi sekeras batu,
Zikir sesejuk air mengalir,
Ia bisa melembutkan hati.

Usah disangka selembut zikir, seremeh perkara
Kalimah La Ilaha Illallah, berupaya menggegar hati
Menyadung manusia ke kaki kebenaran,
Menggegar dunia...

Saidina Umar Al-Khattab yang awalnya menentang keras Islam, menjadi antara sahabat yang intima' dengan Islam hanya dengan mendengar ayat-ayat Al-Quran, yang mana telah menggegarkan & melembutkan hatinya.

Teringat aku akan firman-Nya yang mafhumnya :
Seseorang mukmin itu, apabila disebutkan nama Allah / teringatkan Allah, maka bergetarlah hatinya, dan apabila dia mendengar ayat-ayat-Nya / bukti-bukti kekuasaan-Nya, maka bertambahlah keimanannya

Jelas ayat ini menunjukkan yang zikrullah/mengingati-Nya membuatkan hati kita lembut dan meningkatkan keimanan kita terhadap-Nya. Adapun kita sebagai seorang hamba yang memang tiada terlepas daripada kesalahan & dosa, hendaklah kita segera beristighfar, memohon keampunannya...



Ampunkanlah aku Ya Allah...
Sesungguhnya tiada yang dapat mengampuniku melainkan Engkau...

Amiin...

-Syphoon-

1629, 7 ZulKaedah 1427

Nasyid bertajuk Penangan Zikrullah daripada Album Syahdu, Kump. Suara Firdaus. Klik untuk download

Tuesday, November 21, 2006

Mahu & Tahu

Alhamdulillah...selawat & salam ke atas junjungan besar Muhammad SAW...

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Quran 58:11)

Tersentuh aku apabila terbaca artikel tulisan Sang Gemala Sakti tempoh hari. Ligat benakku berputar, mencernakan isi yang ditelan mataku dalam kotak mindaku. Satu persoalan yang timbul, MENGAPA HILANGNYA TIANG SERI TERSEBUT?

Ku fikir, apakah mungkin apa yang aku tahu itu tidak mencukupi? Ya, tidak mencukupi. Pernah aku terdengar seorang ustaz yang ku kenali berkata, "Tahu saja tidak cukup untuk kita komited tanpa adanya kemahuan" . Kalam tersebut pada asalnya untuk satu perkara yang lain, tapi aku cuba untuk mengaitkan dengan apa yang sedang aku alami.

Dalam ayat 11 surah yang ke 58 di dalam Al-Quran, seperti mana yang kita maklum, Allah meninggikan darjat orang yang beriman, dan meninggikan lagi darjat orang beriman yang berilmu pengetahuan. Jelas ayat ini menunjukkan bahawa hanya orang yang beriman dan orang beriman yang berilmu itu mulia di sisi-Nya, bukan sekadar berilmu tetapi tidak beriman.

Analogi yang mudah dalam konteks diriku sendiri sebagai penuntut ilmu, aku tahu bahawa pergi ke kuliah itu penting untuk membantuku skor dalam peperiksaan, tetapi aku tidak mahu ke kuliah, adakah aku akan lulus? Aku tahu bahawa mengulangkaji pelajaran itu penting untuk aku berjaya, tetapi aku tidak mahu berbuat demikian, adakah aku boleh berjaya?

Begitu juga konsep amar ma'ruf dan nahi munkar. Aku tahu perkara itu baik & besar ganjaran pahala di sisi-Nya, tetapi adakah aku mahu untuk mengajak sahabat-sahabatku yang lain untuk turut serta beramal dengan dengan perkara tersebut? Aku tahu perkara buruk, tetapi adakah aku mahu meninggalkan perkara itu dan menegah sahabat-sahabatku untuk meninggalkan perbuatan tersebut? Adakah cukup dengan sekadar tahu, tanpa ada kemahuan?

Mungkin ada yang berpendapat, pengetahuan melahirkan kesedaran, membuahkan kemahuan. Bagiku, kenyataan ini adakala benar, adakala tidak. Andai kenyataan ini sentiasa benar, masakan orentalis yang mengkaji Islam, bahkan ada antara mereka yang lebih arif daripada kita, tidak mahu mengikut agama fitrah ini? Sirah Nabawi juga ada melakarkan, Abu Jahal, yang hidup sezaman dengan Rasulullah, yang tahu latarbelakang baginda, mengetahui kebenaran risalah yang disampaikan oleh baginda, tetapi adakah dia mahu beriman?

Puas aku berdebat dengan diriku sendiri. Aku berhujah, "Bukan taknak tegur, tapi tak mampu..cukuplah sekadar membenci dengan hati" Ah, satu omongan kosong yang sejak dulu lagi aku gunakan untuk beralasan bagi melahirkan rasa tidak bersalah. Sampai bila aku mahu membenci dengan hati? Sampai kiamat? Apa syarat sebelum membenci dengan hati? Apakah tidak aku mahu meningkatkan tahap itu kepada lisan dan paling atas perbuatan? Cukup dengan hati? Puas hati dengan benci sahaja? (1)

Ketahuilah wahai diriku yang jahil ini bahawasanya amar ma'ruf nahi munkar itu merupakan satu sedekah (2) kepada diriku dan juga kepada sahabat-sahabatku. Apakah aku sanggup melihat sahabat-sahabatku yang lain berada dalam keadaan terkapai-kapai, dan mempersoalkan di hadapan Allah kelak di Mahsyar? Tidakkah aku mahu menyempurnakan imanku (3) dengan amar ma'ruf nahi munkar ini?

Sesungguhnya setiap apa yang aku tunjuk itu membawa kepada kebaikan dan ada yang mengikutinya, maka aku turut mendapat ganjaran... Begitu juga dengan setiap kemunkaran yang ku cegah dan mereka meninggalkan perbuatan tersebut, aku turut mendapat ganjaran. Namun, sekiranya yang berlaku adalah sebaliknya, maka aku turut mendapat saham dosa....(4)

Sememangnya hidayah itu milik Allah SWT. Sesiapa yang diberi hidayah oleh-Nya, maka tiada siapa pun yang dapat menyesatkannya, dan sesiapa yang disesatkan oleh-Nya, makan tiada seorang pun yang dapat memberikan hidayah kepadanya...Tetapi apakah aku tidak boleh menjadi asbab kepada hidayah tersebut? Adakah aku mahu menjadi asbab untuk sahabatku itu terus terpesong dan dipesongkan?

Satu persatu soalan yang muncul dalam fikiranku, memukul kalbuku, membuatkan aku bertanya pada diriku, bagaimana keadaan IMAN ku saban hari...Aku tahu prioriti ku sebagai muslim, menjadikan kalimah Allah itu kembali pada tempat yang sepatut(5).

Ya Allah, jadikanlah aku daripada golongan yang mencintai-Mu, dan golongan yang mendapat cinta-Mu...

Amiiin...

Syphoon
Irbid, Jordan
1736, 30 Syawal 1427

(1) Hadith ke 34 - Matan Arbaien Nawawiah
(2) Hadith ke 25 - Matan Arbaien Nawawiah
(3) Hadith ke 13 - Matan Arbaien Nawawiah
(4) Hadith ke 173 - Riyadh As-Solihin
(5) Surah At-Taubah : 40

Monday, October 16, 2006

IKIM gesa ketua syariah Takaful dipecat
Category: General Posted by: Raja Petra
Oleh SALHAN K. AHMAD
mStar

Ketua jabatan syariah Takaful Malaysia yang mengeluarkan e-mel
melarang kakitangan syarikat berkenaan mengucapkan Selamat Deepavali
kepada penganut Hindu perlu dipecat kerana tidak layak memegang
jawatan itu, kata ketua pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia
Dr. Syed Ali Tawfik Al Attas.

"(Mohd) Fauzi Mustaffa juga harus bertaubat atas keangkuhannya itu
dengan menganggap beliau mempunyai pengetahuan (tentang hal itu),"
kata Dr Syed Ali dalam satu kenyataan kepada mStar Online petang ini.

Beliau turut bersetuju dengan kenyataan Menteri di Jabatan Perdana
Menteri Datuk Dr Abdullah Md Zin semalam yang menganggap larangan
yang dianjurkan oleh Mohd Fauzi itu sebagai pendapat peribadi dan
berdasarkan kefahaman Islam yang sempit.

Dalam e-mel yang dihantar kepada kakitangan syarikat insurans Islam
itu, Mohd Fauzi berkata ucapan "Happy Durga Pooja", "Happy Lakshmi
Pooja" dan "Happy Deepavali" seolah-olah mengucap selamat kepada
tuhan Hindu yang bernama Durga, Laksmi dan Krishna dan, menurutnya,
bertentangan dengan akidah Islam.

"Seluruh kakitangan (Takaful) Malaysia adalah dilarang untuk
mengucapkan ucap selamat kepada ketiga-tiga perayaan di atas dan
lain-lain lagi (perayaan) yang sepertinya kerana ianya boleh
menyebabkan berlakunya syirik.

"Bagi mereka yang telah terlanjur mengucap selamat kepada penganut
Hindu seperti ketiga-tiga greetings (ucapan selamat) di atas maka
hendaklah segera bertaubat dan tidak mengulanginya lagi pada masa-
masa akan datang," katanya seperti dipetik daripada e-mel bertarikh
3 Oktober.

Sehubungan itu, setiausaha agung DAP Lim Guan Eng memberi tempoh 48
jam kepada Mohd. Fauzi untuk meminta maaf kepada masyarakat India
atas kenyataannya itu yang disifatkan sebagai "ekstrem"
dan "menghasut".

Dalam kenyataannya hari ini, Lim berkata Mohd Fauzi perlu dipecat
dan disiasat di bawah Seksyen 4 Akta Hasutan jika enggan berbuat
demikian.

"Seorang lelaki yang cukup terdidik dan mahir dalam undang-undang
Islam boleh memegang pandangan ekstrem sebegitu adalah satu
(perkara) yang menyedihkan dan memeranjatkan, " katanya.

Beliau turut mempertikaikan kenyataan Dr Abdullah di akhbar semalam
yang dianggap "tidak cukup" kerana tidak mendesak Mohd Fauzi menarik
balik sepenuhnya pandangan itu dan meminta maaf secara terbuka tanpa
syarat.

"Adakah Datuk Dr Abdullah juga akan bersikap sedemikian sekiranya
penganut Hindu diberitahu supaya tidak mengucapkan Selamat Hari Raya
kepada orang Islam?" kata Lim.


*taken from kolejislam@yahoogroups.com
[Any comments???]

Uproar over ban on Deepavali greetings

12/10: Uproar over ban on Deepavali greetings

Category: General

Posted by: admin

A MALAYSIAN finance industry official has drawn fire after reportedly
forbidding Muslims from delivering Hindu festive greetings to ethnic
Indians in the multicultural country.

Mr Fauzi Mustaffar, head of the Islamic law department at insurance
company Takaful Malaysia, issued the warning to staff ahead of
Deepavali.

He said that because the festival - a highlight on the ethnic Indian
calendar - involved the worship of Hindu deities, issuing greetings was
like practising polytheism and against the tenets of Islam.

'Muslims who have inadvertently wished Hindus a happy Deepavali, happy
Durga Pooja or happy Lakhshmi Pooja must immediately repent and not
repeat it in the future,' he was quoted as saying in an internal e-mail
message.

Mr Fauzi told The Star newspaper that the e-mail was sent in response to queries from employees.

But Datuk Dr Abdullah Mohamad Zin, from the Prime Minister's
Department, blasted Mr Fauzi, saying that pleasantries were important
for racial harmony.

'He has no authority to say Muslims shouldn't wish Hindus (well)
because that is like a fatwa (edict),' Datuk Dr Abdullah said, adding
that only government Islamic bodies could issue fatwas.

'Just because you wish someone happy Deepavali does not mean that you have embraced his beliefs and religion.

'In a multireligious and multicultural country like ours, it is
important to live in harmony and be nice to one another,' he added.

AGENCE FRANCE-PRESSE

*taken from kolejislam@yahoogroups.com
[Any comments??]

Thursday, October 12, 2006

PERSIAPAN PARA DA’I; ILMU SENI BERDAKWAH(USLUB DAKWAH)

1.0 MUQADDIMAH

Dewasa ini kita melihat semakin ramai mad'u yang diabaikan oleh para da'i rentetan ketidakfahaman tentang cara pendekatan/uslub yang sebetulnya, mengikut keadaan masa dan aqal mad'u. Bagi memastikan kesinambungan dakwah, para da’i hendaklah memiliki beberapa persiapan bagi memastikan mereka terus bersedia dan beristiqamah dalam mengajak manusia kepada mengenal Allah SWT. Persiapan-persiapan ini termasuklah persiapan ilmu, mentaliti, jasmani, rohani, akhlak dan daya kepimpinan.

Senjata pertama yang perlu dimiliki oleh seorang da’i ialah persiapan ilmu. Secaranya umumnya setiap da’i hendaklah memahami persoalan aqidah, akhlak, hukum-hukum fiqh dan seterusnya ke peringkat yang lebih besar dalam persoalan dakwah dan jihad.

Keberkesanan dakwah berkadar terus dengan selok belok dakwah yang antara lainnya menyentuh tentang uslub dakwah itu sendiri. Ilmu dakwah dan uslubnya adalah dua perkara yang tidak dapat dipisahkan, umpama aur dengan tebing, yang menjadi penentu kepada kejayaan dakwah yang hendak dibawa.

2.0 DEFINISI DAN PENGERTIAN USLUB DAKWAH

‘Uslub’ adalah perkataan Arab yang membawa maksud jalan atau seni dalam percakapan atau pekerjaan. Juga didefinisikan sebagai metodologi atau cara melakukan sesuatu atau sistem melakukan sesuatu.

Usaha yang lebih berkesan dan realisasi mesej hanya boleh dicapai apabila dakwah itu mempunyai method atau uslub yang relevan dan terkini. Dengan ini, methodologi itu merupakan satu ilmu, yang perlu dipelajari, dikaji dan dikuasai sebaiknya bagi memudahkan segala urusan dalam lapangan kehidupan.

Uslub dakwah merupakan suatu sistem tersendiri yang tidak boleh dicipta oleh mana-mana sistem di alam cakerawala ini. Ianya bersifat rabbani; diwahyukan oleh Allah SWT kepada semua RasulNya untuk diaplikasikan mengikut tahap dan situasi. Uslub tersebut tidak ketinggalan zaman kerana ianya bersifat terkini selamanya yang bersumberkan Al Quran dan As Sunnah. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Dan siapakah yang lebih elok percakapannya dari mereka yang berdakwah kepada Allah dan beramal soleh serta berkata: Sesungguhnya aku termasuk di dalam golongan yang berserah diri kepada Allah SWT” (Surah al-Fussilat: 33)

3.0 USLUB AL-DAKWAH / PENDEKATAN DALAM BERDAKWAH

Dakwah dalam pengertian yang amat mudah adalah “ad-dakwah Ilallah” (menyeru ke jalan Allah). Namun ianya tidak mudah tercapai tanpa memahami semua rukun dakwah dan di antara rukun tersebut ialah pendekatan dakwah itu sendiri yang kita selalu menyebutnya sebagai uslub al-dakwah. Perlu diingatkan, ianya perlulah didahului oleh rukun yang sebelumnya (Maudhu’ al-dakwah/Topik utama dakwah, Al-Daie/Para pendakwah dan Al-Mad’uun/Penerima dakwah) kerana ia amat berkait rapat dan saling berturutan bagi mendapat gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang konteks yang sebenarnya.

Sebagaimana yang dinyatakan sebelum ini, uslub dakwah ini diasaskan atas manhaj Rabbani. Di dalam rujukan utama kita yakni Al Quran, Allah SWT telah menggariskan uslub dakwah dengan jelas lagi nyata:

“Serulah ke jalan TuhanMu (Wahai Muhammad) dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau seru itu) dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya TuhanMu Dialah jua yang lebih mengetahuiakan orang yang sesat dari jalannya, dan Dialah jua yang lebih mengetahui akan orang-orang yang medapat hidayah petunjuk”. (Surah al-Nahl:125)

Dari panduan ayat di atas, terdapat sekurang-kurangnya tiga uslub yang menjadi tunjang utama uslub ini. Namun, masih terdapat banyak cabang uslub dakwah yang perlu dirujuki kepada As Sunnah sebagai sumber rujukan kedua.

3.1 Uslub Pertama: AL-HIKMAH

Al-Hikmah, dari Abu Ja’far bin Ya’qub memberi maksudnya sebagai “setiap kebaikan dari perkataan yang menghasilkan perbuatan yang tepat”

Kata al-Jurjani: ”Setiap tutur kata yang menepati kebenaran adalah hikmah”. Dan berkata Ibn Zaid: “Semua perkataan yang memberi pengajaran atau menyeru kepada kemuliaan atau menegah kamu dari keburukan adalah hikmah”.

Firman Allah SWT:
“Allah memberika hikmah kebijaksanaan (ilmu yang berguna) kepada sesiapa yang dikehendakinya (menurut aturan yang dikehendakiNya) . Dan sesiapa yang diberikan hikmah itu, maka sesungguhnya ia telah diberika kebaikan yang banyak. Dan tiadalah yang dapat mengambil pengajarn (dan peringatan) melainkan orang-orang yang menggunaka akal fikirannya”. (Surah al-Baqarah:269)

Ayat di atas jelas mengaitkan hikmah itu dengan kebaikan. Dengan ini kita boleh mengambil iktbar bahawa al-Hikmah merupakan uslub terpenting dalam berdakwah. Ianya amat luas dan boleh dipecahkan sebagaimana berikut:

3.1.1 Uslub al-Ilm wa al-ma’rifah (Pendekatan ilmu dan pengetahuan)

Pendekatan akademik yang berteraskan ilmu pengetahuan yang mendalam dari sumber utama menjadi asas uslub ini. Ianya bersifat jitu, tepat dan ketat.

Pendekatan ini sesuai dengan ahli-ahli akademik yang mementingkan fakta dan ulasan yang menginginkan kepuasan mental yang akhirnya boleh tuduk dengan adanya kebenaran.

Contoh uslub ini ialah peristiwa yang berlaku kepada pendakwah-pendakwah awal ISalm yang berhijrah ke Habsyah. Mereka ini terdiri daripada 83 orang sahabat r.a termasuk Uthman bin Affan, isterina Ruqayyah binti Rasulullah SAW, Az-Zubir bin Al-Awwam, Ja’far bin Abdul Mutholib dan lain-lain.

An – Najasyi terlebih dahulu telah dimomokkan kepadanya maklumat yang negatif tentang Islam sebelum beliau mendapat penjelasan sebenar yang diberikan oleh ‘Abdullah bin Abi Rabi’ah dan ‘Amr bin al – ‘As dengan tomahan mereka: Wahai tuanku, sesungguhnya telah tiba di negara tuanku dari negara kami segolongan manusia yang selekeh. Mereka telah memecah – belahkan agama kaum mereka dan tidak akan menganut agama tuanku. Mereka datang ke sini membawa agama mereka ciptaan mereka sendiri. Kami tidak mengetahui agama yang dibawa itu dan begitu juga tuanku...”

Pembesar – pembesar an – Najasyi pula menyampuk: “Wahai tuanku kaum mereka lebih faham tentang mereka. Lebih mengerti tentang keburukan mereka. Oleh itu, serahkan mereka semua kepada mereka berdua biar mereka uruskan agar mereka pulang ke negara dan kaum mereka”.

Keadaan sebegini memerlukan kepada uslub yang sesuai untuk berdakwah mempertahankan yang hak dan menolak yang batil. Jika pendakwah – pendakwah ini gagal menyatakan sesuatu yang hak menurut uslub yang sesuai maka akan besarlah padahnya.

An – Najasyi berpaling kepada kumpulan umat Islam itu dan bertanya dalam uslub ‘ilmu: “Bagaimana keadaan kamu sebelum datang agama ini?

Ja’far bin ‘Abdul Mutholib tampil ke hadapan memberikan penjelasan. “Tuanku, kami adalah kaum yang jahil. Cari hidup kami menyembah berhala, makan bangkai, melakukan perkara – perkara keji, menyakiti jiran, yang kuat menindas yang lemah sehinggalah datang agama kami membaiki (keadaan) kami”.

An – Najasyi bertanyakan tentang ‘Isa a.s (kerana beliau beranggapan Islam menghina ‘Isa dengan mengatakan ‘Isa adalah hamba). Jawab Ja’far r.a: “Islam memberitahu kami dengan firman Allah:

“(Nabi Isa) Al-Masih tidak sekali-kali enggan dan angkuh daripada menjadi hamba bagi Allah, demikian juga (sikap) malaikat Yang sentiasa berdamping (dengan Allah). dan sesiapa Yang enggan dan angkuh daripada beribadat (menyembah dan memperhambakan diri) kepada Allah, serta ia berlaku sombong takbur, maka Allah akan menghimpunkan mereka semua kepadaNya”.(Surah an – Nisaa’: 172)

An – Najasyi bertanya lagi pandangan Islam terhadap ‘Isa. Ja’far menjelaskan dengan membaca surah Maryam yang menerangkan di dalamnya perihal kelahiran ‘Isa tanpa bapa dan dipertikaikan oleh kaumnya. ‘Isa a.s ketika masih di dalam buaian berkata – kata kepada kaumnya dengan mengatakan bahawa dia adalah hamba Allah yang akan diturunkan al – Kitab (Injil) kepadanya dan akan menjadi nabi.

Setelah mendengar penjelasan yang begitu tepat lagi menusuk hati, an – Najasyi menangis sehingga basah janggutnya. Katanya: “Agama Islam dan agama yang dibawa oleh ‘Isa adalah datang dari sumber yang sama. Beliau mengambil sebatang kayu dan membuat garisan di atas tanah seraya berkata: “Agama aku dan agama kamu amat hampir. Pemisah kita adalah garisan yang halus ini”. Kerana itu, umat Islam diberi jaminan keselamatan tinggal di negara Habsyah dengan damai.

3.1.2 Uslub al-Latf wa al-Layn (Pendekatan lembut dan lunak)

Berlembut dan lunak pada tempat yang sewajar dan sebetulnya merupakan bukti kebijaksanaan seorang pendakwah. Begitu juga keadaan berkeras pada tempatnya merupakan suatu cara berhikmah. Jelas dinyatakan dalam al Quran yang mengisahkan tentang nabi Musa a.s dan nabi Harun ketika mereka diperintahkan mengajak Fir’aun kepada agama Allah SWT:

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas dalam kekufurannya. Kemudian hendaklah kamu berkata kepadanya dengan kata-kata yang lembut, semoga ia beringat atau takut”. (Surah Thoha: 43-44)

Tersingkap juga melalui beberapa kisah Rasulullah SAW yang menggunakan pendekatan berlembah lembut ini. Antaranya ialah kisah seorang Badwi masuk ke dalam masjid dan membuang air kecil. Para sahabat yang melihat perbuatan tersebut berasa amat marah dan mengasarinya bagi memberi pengajaran kepadanya. Rasulullah SAW segera bertindak mententeramkan keadaaan tersebut dan mendekati Badwi tersebut dengan lemah lembut seraya bersabda:

“Sesungguhnya masjid tidak elok digunakan seperti yang anda lakukan, malah ianya digunakan untuk berzikir dan berdoa”.

Badwi tersebut beredar dengan baik di samping berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau kasihi selain dari kami walau seorang sekalipun”.

Uslub ini juga dikenali sebagai uslub al – Maddarah. Kata Ibn Battol: “Al – Maddarah adalah dari akhlak mukminin iaitu bersopan dengan manusia, berlemah lembut dalam percakapan, jauhkan dari kekerasan, yang demikian itu salah satu kekuatan untuk menambat kasih sayang sesama manusia”.

Metodologi ini boleh juga diteliti melalui ayat Allah SWT:

“Maka dengan rahmat dari Allah kamu menjaadi lembut lunak dengan mereka. Kalau kasar dan berkeras hati nescaya mereka akan lari dari kamu”.

3.1.3 Uslub al-Quwwah wa as-Shiddah (Pendekatan kekuatan dan kekerasan)

Manusia diciptakan Allah dengan pelbagai rupa, akhlak dan budi bicara. Oleh itu, dakwah perlu dipelbagaikan uslubnya. Hikmah tidak semestinya berlemah lembut. Adakalanya berlaku kuat dan kasar juga merupakan hikmah.

Pendekatan ini dapat dilihat dari pengertian jihad pada zaman awal Islam. Setelah pendekatan lemah lembut tidak memberi kesan, malah umat Islam masih ditindas dan diperangi sehingga merasakan kota Madinah tidak selamat lagi didiami, maka Allah turunkan ayat ini:

“Diizinkan berperang bagi orang-orang (Islam) yang diperangi (oleh golongan penceroboh, kerana sesungguhya mereka telah dianiaya”. (Surah al-Haj:39)

Dan terdapat banyak lagi ayat-ayat Quran yang menerangkan tentang uslub ini yang mana ianya digunakan mengikut kesesuaian masa-masa tertentu dan ditangguhkan pada masa yang tidak diperlukan. Pendekatan ini tidak diaplikasikan oleh baginda ASW ketika zaman permulan Islam di Mekkah. Uslub yang keras digunakan hanya apabila uslub yang lembut dan mengalah tidak memberi kesan. Kekerasan pada zaman tersebut bukanlah bermaksud dengan menggunakan senjata. Ianya adalah dengan menggunakan lidah dengan kata-kata yang tegas sehingga mampu menusuk hingga ke hati.

Namun perlu diingatkan, adalah lebih baik jika tidak keterlaluan. Cukup hanya sekadarnya kerana kita sebagai umat Islam adalah umat yang sederhana dan bencikan sikap ghulu (melampau).

3.2 Uslub Kedua: Al – Mau’izoh al - Hasanah

Uslub al – Mau’izoh al – Hasanah merupakan uslub al – Qur’an (method Rabbani) yang perlu diberikan perhatian. “Al – Mau’izoh itu asalnya adalah merujuk kepada kata – kata yang boleh melunakkan sanubari yang mendengar sebagai persediaan untuk melakukan kebaikan bagi menghayatinya” . Firman Allah SWT:

“Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan Yang baik, Iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredaan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat, serta ia pula menyebut dan mengingati Allah banyak-banyak (dalam masa susah dan senang)”
(Surah al – Ahzab: 21)

Uswatun hasanah dan mau’izaoh hasanah terdapat banyak persamaan. Ibn ‘Athiyyah menyebut: “Mau’izoh hasanah itu merupakan suatu usaha untuk memberikan manusia rasa takut dan mengharap serta melunakkan manusia agar menjadikan ceria dan bersedia untuk menerima nilai – nilai murni”.

Al – Zamakhsyari menyebut: “Sesungguhnya mau’izoh hasanah itu ialah suatu yang tidak asing kepada mereka bahawa kamu menasihati mereka dengan tekad untuk memberi sesuatu yang bermanfa’at kepada mereka”.

Perkara utama dalam uslub ini ialah pendakwah hendaklah mencontohi Rasulullah s.a.w dalam segenap aspek sama ada perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan) , sifat dan tatacara hidup baginda s.a.w. Ianya dilakukanlah mengikut kemampuan kita. Baginda s.a.w bersabda:

“Apabila aku menyuruh kamu melakukan sesuatu perkara, maka lakukanlah perkara itu sekadar yang termampu”.

Suatu contoh yang unggul pernah berlaku ke atas Rasulullah s.a.w yang mungkin sukar dicontohi oleh kita pada hari ini:
“Suatu hari harta rampasan perang (al – Ghanimah) dibawa kepada Rasulullah s.a.w. Setelah dihitung, didapati jumlahnya sebanyak sembilan puluh ribu dirham dilonggokkan semuanya di atas tikar daun tamar. Baginda membahagikan harta itu kepada yang berhak menerima sehingga habis semuanya. Tiba – tiba datang lagi sahabat yang meminta haknya kerana beliau belum mendapat apa – apa. Rasulullah s.a.w bersabda kepadanya: “Pergilah ke kedai yang menjual keperluanmu dan belilah barang – barang itu secara hutang. Katakan kepada tuan kedai itu bahawa aku akan membayar kepadanya”. Mendengar kata – kata itu, Umar bin al – Khattab mencelah dan berkata: “Ya Rasulullah! Mengapa kamu membebankan dirimu sesuatu yang tidak sepatutnya kamu tanggung. Perkara yang sudah selesai, biarkanlah”. Mendengar kata – kata itu air muka Rasulullah s.a.w berubah tanda tidak senang dengan kata – kata Umar r.a lalu tampil seorang lelaki Ansar dan berkata: “Ya Rasulullah teruskan memberi kesanggupan berbelanja
kerana Allah yang akan membayarnya nanti”. Mendengar kata – kata itu Rasulullah tersenyum tanda menyukai tindakannya”. (Mustalzimat al – Da’wah al – ‘Asr al – Hadir: 121)

Uswah Hasanah banyak persamaan dengan qudwah hasanah. Pendakwah perlu menunjukkan contoh yang baik untuk diikuti oleh mad’u. Contoh yang baik ini bukan sahaja pada kata – kata dan tingkah laku malah sampai air muka pun perlu diambil kira dengan sentiasa bermuka manis walaupun dalam keadaan marah.

Contohnya Rasulullah s.a.w dalam siri dakwahnya, suatu hari didatangi oleh seorang ‘Arab bengis kepada baginda seraya berkata dengan kasar: “Kamukah yang bernama Muhammad bin ‘Abdullah?”. Jawab Rasulullah dengan lemah – lembut: “Ya, sayalah Muhammad bin ‘Abdullah”. ‘Arab itu bertanya lagi: “Kamukah yang selalu dikatakan pembohong besar?”. Jawab baginda: “Ya, sayalah yang dikatakan oelh kaum saya sebagai pembohong besar tetapi sebenarnya tidak”.Dengan muka yang tenang dan dengan tutur kata yang lembut, ‘Arab itu tiba – tiba berkata: “Muka seperti ini bukan muka seorang pembohong”. Lalu dia bertanya nabi s.a.w: “Apa yang kamu bawa? Cuba terangkan kepadaku” Rasulullah s.a.w menerangkan kepadanya tentang Islam dengan cara yang menarik dan menusuk hati. Akhirnya ‘Arab tadi berkata: “Aku beriman kepadamu dan aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad itu Pesuruh Allah”.

Seperkara lagi yang amat penting dalam membicarakan uslub al – Mau’izoh al – Hasanah ialah pendakwah hendaklah menjadi model yang realiti, ikhlas dalam perkataan dan perbuatan, bukan hanya pandai bercakap tak serupa bikin. Rasulullah s.a.w menginagtkan kita dengan sabdanya:

“Dari Usamah bin Zaid r.a bahawa Nabi s.a.w telah bersabda: Didatangkan seorang lelaki (pendakwah) pada hari Qiyamah lalu dicampakkan ke dalam api neraka. Api neraka membakarnya hingga ke tali perutnya. Dia terseksa dan berpusing – pusing di dalam neraka seperti keldai berpusing – pusing di tempat kerjanya. Penghuni – penghuni neraka yang lain berkerumun kepadanya lalu mereka bertanya: Apa hal kamu ini? Bukankah kamu yang menyuruh kami melakukan kebaikan dan melarang kami kemungkaran? Jawabnya: Ya, aku menyuruh kamu membuat ma’ruf tetapi aku tidak melakukannya dan aku melarang menjauhi kemungkaran akan tetapi aku melakukannya” . (Riwayat al – Bukhari dan Muslim)

Selalunya berdakwah dengan contoh teladan yang praktikal lebih mendatangkan kesan mendalam daripada dakwah dengan pendekatan yang lain. Semuanya bergantung kepada waqi’ atau keadaan yang mengizinkan sesuatu tindakan yang bakal di ambil.

3.2.1 Uslub al – Murasalah / Cara menulis surat

Contoh baginda SAW menggunakan kaedah pengutusan surat – surat kepada pembesar – pembesar dunia pada zamannya bagi menyeru mereka menerima Islam juga perlu dikaji dan draktikkan. Baginda menyuruh para sahabat r.a untuk menulis surat untuknya dan surat – surat itu kemudiannya di hantar kepada an – Najasyi (raja Habsyah), Kaisar (Raja Parsi), Hiraqqel (Raja Rom), Maqauqis (pembesar Mesir) dan banyak lagi. Ada yang menerima dakwah Islam seperti an – Najasyi, ada yang mengakui kerasulan baginda s.a.w seperti Hiraqqel akan tetapi tidak menerima Islam dan ada yang menentang bahkan mencabar nabi s.a.w seperti Kisra.
Di dalam kitab Minhaj as – Solihin oleh ‘Izz al – Din Baliq ada menyebut bahawa Rasulullah s.a.w pernah meminta sahabat r.a menulis sekurang – kurangnya 33 pucuk surat yang akan dihantar ke dalam negara dan 29 pucuk surat yang akan dihantar ke luar negara. Kesemuanya mengandungi mesej dakwah yang menyeru mereka menerima Islam. Sekiranya tidak, mereka perlu mengiktiraf Islam sebagai agama dan sebuah kerajaan berdaulat di samping membayar jizyah. Sekiranya mereka enggan dan menentang Islam, maka gerakan futuhat (pembebasan) akan dihantar ke negara tersebut sehingga tunduk kepada Islam.

Uslub penulisan surat adalah salah satu cara yang praktikal dan boleh dicontohi. Namun penulisan tidaklah terhad kepada surat sahaja bahkan boleh dimanfaatkan teknologi terkini seperti media cetak, media elektronik, sistem pesanan ringkas (SMS), internet, 3G dan sebagainya. Umat Islam perlu berusaha lebih memandangkan kaum non – Muslim sudah lama mempraktikkan cara ini bagi menyebarkan dakyah batil mereka.

3.3 Uslub Ketiga: Al – Mujadalah

Terdapat 3 istilah yang dikaitkan dengan uslub ini:-
Mujadalah / Mujadilah (Bersoal – jawab)
Muhawarah (Berdialog)
Munazoroh (Berdebat / Berbahas)

Kesemua istilah ini boleh disimpulkan dengan perdebatan atau perbahasan antara dua belah pihak yang berselisih untuk menegakkan kebenaran dan menolak kebatilan dengan hujah – hujah yang bernas dan nyata. (Ma’alim fi manhaj al – Da’wah: 212 – 213)

Di dalam al – Qur’an al – Karim, antaranya Allah SWT menyebut:

“Dan janganlah kamu berbahas dengan ahli Kitab melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali orang-orang yang berlaku zalim di antara mereka; dan Katakanlah (kepada mereka): "Kami beriman kepada (Al-Quran) Yang diturunkan kepada Kami dan kepada (Taurat dan Injil) yang diturunkan kepada kamu; dan Tuhan kami, juga Tuhan kamu, adalah satu; dan kepadaNyalah, Kami patuh dengan berserah diri". (Surah al – Ankabuut: 46)

“Dan jika mereka mengemukakan bantahan kepadaMu, maka katakanlah: "Allah Amat" mengetahui akan apa yang kamu lakukan”. (Surah al – Hajj: 68)

Dan juga iktibar dari kisah dua orang sahabat di dalam surah al – Kahfi: “Dan berikanlah kepada mereka satu contoh: dua orang lelaki, Kami adakan bagi salah seorang di antaranya, dua buah kebun anggur; dan Kami kelilingi kebun-kebun itu Dengan pohon-pohon tamar, serta Kami jadikan di antara keduanya, jenis-jenis tanaman yang lain. Kedua-dua kebun itu mengeluarkan hasilnya, dan tiada mengurangi sedikitpun dari hasil itu; dan Kami juga mengalirkan di antara keduanya sebatang sungai. Tuan kebun itu pula ada mempunyai harta (yang lain); lalu berkatalah ia kepada rakannya, semasa ia berbincang dengannya: "Aku lebih banyak harta daripadamu, dan lebih berpengaruh dengan pengikut-pengikutku yang ramai". Dan ia pun masuk ke kebunnya (bersama-sama rakannya), sedang ia berlaku zalim kepada dirinya sendiri (dengan sebab kufurnya), sambil ia berkata: "Aku tidak fikir, kebun ini akan binasa selama-lamanya. Dan Aku tidak fikir, hari kiamat kan berlaku; dan kalaulah Aku dikembalikan
kepada Tuhanku (sebagaimana kepercayaanmu) , tentulah Aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini. Berkatalah rakannya kepadaNya, semasa ia berbincang dengannya: "Patutkah Engkau kufur ingkar kepada Allah Yang menciptakan Engkau dari tanah, kemudian dari air benih, kemudian ia membentukmu dengan sempurna sebagai seorang lelaki? Tetapi Aku sendiri percaya dan yakin dengan sepenuhnya Bahawa Dia lah Allah, Tuhanku, dan Aku tidak sekutukan sesuatu pun dengan Tuhanku. Dan sepatutnya semasa Engkau masuk ke kebunmu, berkata: (semuanya ialah barang yang dikehendaki Allah)! (tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah)? kalau Engkau memandangku sangat kurang tentang harta dan anak, berbanding denganmu, Maka Mudah-mudahan Tuhanku akan mengurniakan daku lebih baik daripada kebunmu, dan (aku bimbang) Dia akan menimpakannya dengan bala, bencana dari langit, sehinggalah menjadilah kebunmu itu tanah yang licin tandus. Ataupun air kebun itu akan menjadi kering
ditelan bumi, maka Dengan yang demikian, Engkau tidak akan dapat mencarinya lagi". Dan Segala tanaman serta hartabendanya itupun dibinasakan, lalu Jadilah ia membalik-balikkan kedua tapak tangannya (kerana menyesal) terhadap Segala perbelanjaan yang telah dibelanjakannya pada kebun-kebunnya, sedang kebun-kebun itu runtuh junjung-junjung tanamannya; sambil Dia berkata: "Alangkah baiknya kalau Aku tidak sekutukan sesuatupun dengan Tuhanku!" (Surah al – Kahfi: 32 – 42)

Jidal atau dialog di atas meskipun tidak memberi kesan segera kepada yang bongkak dan sombong tadi, tetapi menjadi pengajaran kepada pendakwah – pendakwah hari ini.

Contoh uslub dakwah di atas menunjukkan kepada kita bahawa hujah yang kuat boleh mematahkan lawan dan senjata dakwah ini sudah lama dipraktikkan. Sekiranya penyampaian yang disampaikan oleh pendebat / pembahas baik, maka akan jelaslah kebenaran dan akan luputlah kebatilan. Inilah metod yang digunakan oleh sebahagian pendakwah hari ini seperti Syeikh Ahmad Deedat r.h, anak muridnya Dr. ‘Abdul Karim Zakir Naik dan sebagainya. Penggunaan metod ini sangat ‘ilmiyah dan amat sesuai untuk menarik golongan elit atasan kepada kebenaran Islam.

3.3.1 Uslub Mujadalah dalam politik semasa

Pendekatan ini lebih sesuai dan memberi kesan dalam situasi ini. Namun, perlu diingatkan kepada para pendakwah sekalian bahawa menyediakan diri dengan ‘ilmu pengetahuan yang tinggi dan menguasai isu – isu semasa sangat penting sebelum berdialog mahupun berdebat. Penguasaan dan pemahaman yang jitu terhadap isi kandungan al – Qur’an dan as – Sunnah menjadi keutamaan bagi pendakwah terutama berhadapan dengan lawan yang juga beragama Islam. Apatah lagi sekiranya lawan tersebut seorang tokoh dalam sesuatu bidang agama akan tetapi gemar memutarbelitkan ayat – ayat Allah SWT dan hadith – hadith Rasulullah s.a.w seperti Astora Jabat, kumpulan Sisters in Islam dan sebagainya.

Situasi yang ada hari ini sangat memerlukan pendekatan dialog dan perdebatan. Pada kebiasaannya, pihak lawan akan cuba mengelak dan mencari pelbagai alasan helah untuk menggagalkan mujadalah. Pendakwah Muslim akan beruntung kerana dia dapat menyampaikan dakwahnya secara terang dan jelas di samping mematahkan hujah lawan sekiranya mujadalah diadakan. Jika berlaku sebaliknya, pendakwah tetap mendapat kemenangan percuma.

Pendakwah Muslim khususnya yang melibatkan diri dalam Siyasah as – Syar’iyyah (politik Islam), akan berhadapan dengan pelbagai dugaan, tuduhan dan fitnah yang berniat buruk terhadap kesucian agama Islam sepertimana fitnah golongan yang berfahaman sekularisme yang mengatakan politik perkara yang asing dalam Islam. Maka, pembelaan dan penjelasan terhadap isu seperti ini sangat perlu supaya maruah Islam tidak tercemar dan masyarakat tidak terkeliru dengan dakwaan ini. Cukuplah diterangkan dengan baik tentang konsep Baldatun Toyyibatun wa Rabbun Ghafur (Negara yang baik dan mendapat pengampunan Tuhan) yang di sebut oleh al – Mawardi dalam al – Ahkam al – Sultaniyyah yang mengemukakan dalil – dalil yang cukup banyak dan kuat dari al – Qur’an dan as – Sunnah yang membuktikan kewajipan mendirikan negara Islam dan menguruskan alam dengan hidayah Islam sehingga terhapusnya fitnah.

4.0 KESIMPULAN DAN PENUTUP

Sesesorang da’i itu perlu menyediakan dirinya deangan persediaan rapi dan selengkapnya sebelum melangkah ke arena dakwah. Persedian ilmu tentang bentuk-bentuk pendekatan yang telah digariskan oleh Allah SWT dan segala yang dipraktikkan oleh baginda SAW dalah menjadi keperluan yang penting dan perlu diambil perhatian. Tersalah langkah, objektif dakwah akan tersasar malah memberi impak negatif bukan sahaja kepada diri da’i itu sendiri, tetapi juga mad’u dan masyarakat sekelilingnya.

Seorang majikan apabila mengendali dan menguruskan syarikatnya akan sedaya upaya mencari idea untuk memberi kepuasan kepada pekerja di bawahnya di samping memastikan produk/servis yang ditawarkan boleh dipasarkan sebaiknya. Begitu juga pendakwah, haruslah berfikiran kreatif dalam mempelbagaikan pendekatan atau uslub dakwah mereka. Mereka juga hendaklah mengetahui dan mengkaji perihal mad’u (orang yang menerima dakwah) supaya tidak tersalah uslub. Kesilapan tidak memahami kehendak mad’u akan mengakibatkan mesej Islam tidak sampai dan menjauhkan mad’u dengan hakikat Islam.

Rasulullah s.a.w adalah contoh unggul kecemerlangan seorang da’ie. Baginda tidak mengatakan sesuatu melainkan orang yang mendengar ucapannya akan tertarik terhadap mesej baginda. Cukuplah 23 tahun perjalanan dakwah baginda menjadi bukti bahawa penggunaan uslub yang tepat, betul dan mudah berjaya menarik pelbagai kabilah dan kaum menyerah diri kepada agama Allah SWT. Mereka bukan sahaja menerima ‘aqidah Islam bahkan sanggup mempertahankan Islam walaupun harta dan nyawa terpaksa mereka korbankan. Hasilnya, Islam berjaya mendirikan tamadun yang hebat dan kuat bermula pada zaman Rasulullah s.a.w, seterusnya di sambung oleh Khulafa’ ar – Rasyidin, Khilafah Umayyah, Khilafah ‘Abbasiyyah dan Khilafah ‘Uthmaniyyah.

Dakwah perlu diteruskan. Para pendakwah perlu menanamkan sifat sabar yang tinggi dalam dirinya. Sekiranya dakwah mereka dihina dan tidak diterima, janganlah terlintas dalam pemikiran mereka bahawa dakwah mereka telah gagal. Manusia hanya mampu berusaha. Sedangkan hidayah hanyalah dari Allah ‘Azza wa Jal. Kepada – Nyalah kita serahkan segalanya.


Rujukan:
- Ma’alim fi manhaj al – Da’wah
- USLUB DA’WAH (Pendekatan Dalam Berdakwah)
Oleh: Prof. Dato Dr. Harun Din

JUNAIDAH ABU SEMAN
26/09/2006
GRADUAN KUIM

FIQH AMAL ISLAMI

FIQH AMAL ISLAMI

Dewasa ini, kita seringkali mendengar, melihat dan direncanakan dengan pelbagai bentuk program dan aliran tentang usaha-usaha keIslaman (‘amal Islami). Namun, malangnya tidak semua aliran tersebut mengikut prinsip-prinsip yang benar dan sihat. Situasi seumpama ini boleh mengaburi sesebuah gerakan yang akhirnya memberi impak yang negatif kepada para pejuangnya.

Di sini, ‘kefahaman’ adalah suatu perkara utama dalam setiap tindakan terutamanya dalam melaksanakan sesuatu gerakkerja agar setiap yang terlibat mampu berfikir, menilai dan seterusnya mencetuskan keputusan dan amal yang selari dengan kehendak Islam.

1.0 BAGAIMANA MEMAHAMI ISLAM

Pada dasarnya, sebagaimana yang kita maklum, Islam itu bermaksud sejahtera yang membawa erti tunduk dan patuh kepada perintah Maha Pemerintah dan laranganNya tanpa batahan. Dalam usaha memberi kepatuhan tersebut, sudah pasti perlu mengenal Tuhannya dan sifat-sifatNya dan ini sebenarnya telah mebuka gelanggang ilmu dan amal yang tiada pilihannya melainkan jalan yang benar dan lurus.

Islam begitu cantik dan unik sehingga mampu mencakupi seluruh ruang lingkup kehidupan manusia. Baik dari sudut akidah, ibadah, syariat, muamalat dan sebagainya, dari seorang individu hinggalah ke peringkat negara dan daulah. Firman Allah SWT yang bermaksud:

“Wahai orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya” . (Surah al-Baqarah, ayat 208)

Maka usaha membetulkan pemahaman asas seperti akidah dan ibadah ini perlu dilakukan secara konsisten supaya kita sentiasa berada di putaran roda Islam tersebut.

Selain itu, adalah amat penting memahami bahawa Islam itu didasari dan mendasari setiap sesuatu melalui al-Quran, as-Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qias. Ia adalah rujukan paling utama. Sesiapa sahaja yang menolak apa-apa daripadanya tidak patut dipatuhi. Manakala pemimpin yang tidak bercanggah dengan prinsip dari sumber-sumber tersebut, perlu dihormati dan ikuti sekalipun berbeza dengan pendapat sendiri. Firman Allah SWT:

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qu'ran) dan (sunnah) Rasul(Nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian..." (Surah an-Nisa' ayat 59)

Seterusnya, sebagai Muslim yang belum mencapai martabat ijtihad, kita tidak digalakkan membicangkan secara serius tentang perkara-perkara furu’. Sebagai contoh, tentang masalah pembacaan doa Qunut di dalam solat Subuh. Di sini kita perlu jelas dan mempertahankan yang wajib dahulu iaitu solat itu sendiri. Sikap terlalu membicarakan tentang hal-hal furu’ sebegini hanya akan mengundang perselisihan yang boleh merobohkan persaudaraan Islam.

Dalam masalah ‘kafir-mengkafir’ pula, kita perlu faham bahawa tidak boleh mengkafirkan seseorang yang mengucap dua kalimah syahadah selama mana ia beramal dengan tuntutan dan kehendak dua kalimah syahadah itu dan selama mana ia tidak mengeluarkan kata-kata yang menjadikan seseorang itu terkeluar daripada Islam atau ia mengingkari sesuatu yang diketahui secara dharuri atau secara mudah dan tidak payah berfikir di dalam Islam. Misalnya, mengingkari haramnya ‘arak’ atau ia mengingkari seperti wajibnya menjalankan syariat Islam dalam pemerintahan negara atau selama mana ia tidak melakukan perbuatan yang boleh jatuh kufur, seperti ia menyembah berhala atau seperti ia menghina kitab suci al-Quran al-Karim. Disebut dalam sebuah hadis:

Abdullah bin Umar r.a: Sesungguhnya Nabi s.a.w bersabda: Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya, maka ucapan mengkafirkan itu akan kembali kepada salah seorang di antara keduanya iaitu yang berkata atau yang dikata. - Hadith Sahih dari Imam Muslim

2.0 ‘AMAL ISLAMI DALAM PERJUANGAN ISLAM

Dalam usaha memberi kefahaman Islam, pasti akan ada susur galur jalan yang perlu diikuti dan tempuhi serta hakikat tersebut perlu dihadam dalam setiap langkah perjuangan.

Islam berkembang dan terserlah dengan adanya mata rantai-mata rantai pejuang yang cintakan Allah. Ia bermula sejak Nabi Allah Adam a.s sampailah kepada perjuangan Nabi Muhammad SAW yang disambung semula secara terus-menerus oelh para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang datang selepas mereka hingga ke hari ini dan hari yang akan datang. Situasi ini jelas dirakamkan dalam Al-Quran:

"Hendaklah ada di antara kalian sekelompok umat yang mengajak kepada kebaikan (Islam) serta menyeru kepada kemakrufan dan mencegah kemungkaran, mereka itulah orang-orang yang beruntung " (Surah Ali-Imran ayat 104)

Sunnatullah juga, dalam usaha menyebarkan risalah Islam ini, akan berlaku muwajahah dengan pihak yang lebih berkuasa dalam masyarakat terutamanya yang mempunyai penyakit di dalam hatinya yang tidak mahu melihat Islam itu bangkit. Mereka ini bukan sahaja menghalang kerja-kerja Islam malah mahu berlawan mempertahankan kekuasaan yang mereka ada. Inilah yang berlaku di dalam kisah perjuangan Nabi Ibrahim a.s yang ditentang oleh Namrud, Nabi Musa a.s ditentang oleh Firaun dan lain-lain. Golongan ini juga menyusun strategi tertentu bagi memastikan pemerintahan mereka tidak tergugat.

Dan perlu diingat bahawa muwajahah yang berlaku ini bukanlah atas dasar hal-hal peribadi tetapi adalah atas faktor pertembungan aqidah dan dasar. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang disanjung masyarakat Quraish dengan panggilan ‘al-Amin’, akhirnya digelar pula sebagai ahli sihir, gila, pendusta dan lain-lain apabila bermulanya sahaja dakwah baginda.

3.0 GERAKKERJA DALAM ‘AMAL ISLAMI

Setelah kita memahami tentang dasar Islam, memahami tentang apa itu hakikat perjuangan Islam, maka seterusnya kita perlu faham bahawa perlu adanya gerakkerja yang bersepadu dan seimbang dalam memastikan usaha memberikan pemahaman tersebut berjaya dilaksanakan.

Untuk memahami Islam dari sudut ini pula, kita haruslah memerhatikan beberapa ayat yang antara lainnya seperti firman Allah, maksudnya:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari kurniaan Allah dan keredhaanNya, tanda-tanda mereka nampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, iaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya kerana Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh di antara mereka ampunan dan pahala besar”. (Surah al-Fath, ayat 29)

Jelas menunjukkan kepada kita bahawa gerakan ini bermula dari seorang individu (dalam konteks ayat di atas ialah nabi Muhammad SAW) yang akhirnya bercambah seorang demi seorang sehingga berhasilnya satu ketumbukan yang kuat dan tegar.

Proses gerakkerja ini kita boleh manifestasikan daripada apa yang lebih awal Rasulullah SAW lalui dulu. Bermula dengan wahyu yang pertama di Gua Hira’, dengan firman Allah maksudnya:

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhan engkau yang mencipta”. (al Alaq : 1)

Asasnya di sini, sesuatu gerakkerja Islam itu perlu disandarkan dengan ilmu yang tulen. Melalui ilmulah sesebuah gerakan itu boleh bertahan kerana di samping berdakwah, ahli gerakan juga mampu berjidal secara ilmiah apabila berhadapan dengan pihak musuh. Sebaliknya, sesuatu amal yang tidak didasarkan kepada ilmu akan memberi fitnah semula kepada gerakan kerana tidak mampu memahami dan mengamalkan prinsip yang sebenarnya.

Seterusnya, Allah SWT berfirman:
“Dan berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”.(as- Syu’ara : 214)

Dengan ayat ini, bermulanya dakwah secara rahsia (sirriyah) nabi SAW yang memerintahkannya supaya memberi peringatan dan amaran kepada kaumnya dan mengajak mereka menyembah Allah SWT. Kita dapat melihat bahawa, pada peringkat ini, gerakkerja yang dilaksanakan adalah berdasarkan pemilihan. Penyahut utama terhadap dakwah Nabi SAW ialah isteri baginda sendiri iaitu Saidatina Khadijah r.a., diikuti Saidina Abu Bakar iaitu sahabat karib baginda dan seterusnya.

Usaha ‘amal Islami di peringkat ini adalah melalui keperibadian da’i dan kedudukannya dalam masyarakat. Sikap mudah didekati merupakan satu sifat yang menjamin kekuatan untuk menembusi dan mendekati orang lain.
Setelah itu, gerakkerja ini memasuki era keterbukaan seperti mana Firman Allah, maksudnya:

“Maka berterus teranglah dengan apa yang diperintahkan kepada kamu dan janganlah kamu menghiraukan tindakan golongan musyrikin”. (al-Hijr : 94)

Rasullullah SAW berdakwah kepada masyarakat umum setelah mendapat jaminan daripada Allah SWT. Usaha Islam ini dapat dilakukan dengan adanya bantuan dan sokongan daripada keluarga terdekat yang didakwah oleh baginda sebelum ini. Di sini, kita boleh mengambil iktibar bahawa dakwah kepada keluarga yang terdekat adalah penting demi memastikan kesinambungan gerakkerja yang lebih lancar dan konsisten pada masa akan datang.

Dan dalam usaha menjayakan gerakkerja Islam tersebut, perlu juga ada persediaan yang sempurna dalam semua aspek samada fizikal, mental mahupun material. Ini dalah perlu bagi memastikan para pendokong dakwah tersebut lebih bersemangat dan yakin dalam kerja buat mereka. Sebagaimana saranan daripada Allah SWT, maksudnya:

“Dan siapkanlah untuk mereka kekuatan semampu mungkin”. (al-Anfaal : 60)

Apabila seruan dan kefahaman Islam tersebut disahut beramai-ramai, maka akan berlaku penentangan daripada golongan yang bencikan agama suci ini. Maka individu-individu mestilah mempunyai pemahaman yang jelas, di mana apabila ‘amal islami ini dijalankan secara meluas, hakikatnya ia merupakan langkah yang mendedahkan mereka kepada kesulitan dan seksaan. Mereka ini akan dikecam, ditindas, difitnah, dicaci, dipulau, dibunuh dan lain-lain lagi. Keadaaan inilah yang kita lihat berlaku di Mesir apabila pelbagai tindakan diambil ke atas pimpinan dan ahli Ikhwanul Muslimin yang berusaha memberi dan menyebarkan kefahaman Islam kepada masyarakat. Begitu juga seperti mana yang terjadi di Bosnia, Palestin dan lain-lain.Dan yang terbaru, saudara kita di Lubnan menerima kecaman yang hebat daripada pihak Zionis. Apabila berlakunya situasi sebegini, maka wajib bagi kita mempertahankan kembali kesucian agama kita sebagaimana disebut dalam Firman Allah, maksudnya:

“Diizinkan bagi mereka berperang (untuk melakukan sesuatu tindak balas) kerana mereka telah di zalimi…”. (al-Hajj : 39)

4.0 KESIMPULAN

Dalam merangka sesuatu usaha yang lebih besar hingga ke peringkat menubuh dan menjalankan sebuah gerakan, kefahaman tentang ‘amal Islami adalah merupakan satu prioriti yang tidak seharusnya diabaikan oleh sesiapa pun individu dalam gerakan tersebut. Bermula dari kefahaman yang jelas dan jitu, akan terhasilnya ‘amal Islami yang mantap dan berkesan. Ibaratnya, sepohon pokok yang rendang dan kuat adalah berasal dari sebiji biji benih yang baik dan sihat yang mampu mengadaptasi dirinya dalam semua keadaan di sekelilingnya.

Bolehkah Solat-solat Fardhu Diqadha?

Suatu Penilaian Semula - Bolehkah Solat-solat Fardhu Diqadha?

Bab ini khusus membicarakan perihal mengqadha solat dan hal-hal yang
berkaitan dengannya. Ia bertujuan agar dapat memberikan kefahaman
yang sebenar dari ajaran syari'at al-Qur'an dan as-Sunnah mengenai
apakah itu qadha solat dan atas sebab-sebab apakah seseorang itu
dibolehkan mengqadha solatnya. Bab ini dirasakan penting kerana ada
segelintir yang membuat fatwa peribadi bahawa solat itu boleh
diqadha sahaja jikalau berhadapan dengan sebarang bentuk kesukaran
atau keuzuran tidak kira sekecil mana dua faktor penghalang
tersebut. Lebih mengeruhkan suasana ialah perbuatan menangguhkan
solat fardhu ke waktu yang lain dengan alasan ia boleh diqadha
sahaja semata-mata kerana sibuk di gedung beli-belah atau khusyu' di
stadium bolasepak.

Solat adalah satu perintah agama yang mempunyai pengkhususan tempoh
perlaksanaannya. Ia mempunyai waktu-waktu yang telah sedia diatur
dan ditetapkan oleh Allah Subhanahu waTa'ala, iaitu melalui
firmanNya: Sesungguhnya solat itu adalah satu ketetapan yang
diwajibkan atas orang-orang yang beriman, yang tertentu waktunya.
[Maksud surah an-Nisaa' 4 - 103]. Apabila perintah ibadah solat itu
dilaksanakan dalam waktunya, ia digelar sebagai al-adaa' manakala
apabila solat itu dilaksanakan di luar waktunya ia digelar sebagai
al-qadha. Secara lebih mendalam, qadha didefinasikan sebagai -
Melakukan sesuatu amalan yang diwajibkan selepas dari waktunya atau
melakukan solat selepas dari waktunya yang telah ditetapkan.[ 1]

Sebab-sebab Membolehkan Solat Diqadha.

Al-Qur'an dan as-Sunnah sememangnya ada mengajar kita tentang
perihal menunaikan solat-solat fardhu di luar waktu yang ditetapkan.
Akan tetapi kebolehan ini hanya atas beberapa sebab yang juga telah
dijelaskan secara terperinci oleh kedua sumber syari'at tersebut,
iaitu:

1. Apabila seseorang itu tertidur sehingga luput waktu solatnya.
2. Apabila seseorang itu terlupa sehingga luput waktu solatnya.
3. Apabila tersilap kiraan waktu solat sehingga terluput waktu
yang sebenarnya.
4. Apabila seseorang itu berhadapan dengan situasi darurat
sehingga terluput waktu solatnya.

Demikianlah sahaja empat faktor yang dibolehkan bagi seseorang itu
tidak mendirikan solat-solatnya yang fardhu lalu kemudian
diqadhakannya di lain waktu.[2] Tertidur dan terlupa adalah suasana
yang dimaafkan bagi seseorang yang tidak solat di waktunya lalu
diqadhakan dalam waktu yang lain apabila dia terjaga atau teringat,
berdasarkan sabda Rasulullah sallallahu-alaihi- wasallam:

Barangsiapa lupa untuk solat atau tertidur, hendaklah dia menunaikan
ia apabila teringat. Tidak ada hukuman selain dari itu.[3]

Nabi sallallahu-alaihi- wasallam juga telah bersabda dalam satu
hadith yang lain: Sebenarnya tidak ada kecuaian dalam masa tidur,
kecuaian hanya berlaku dalam masa sedar. Oleh itu sesiapa di antara
kamu yang terlupa solat atau tertidur hendaklah menunaikannya
apabila dia teringat, kerana Allah Ta'ala telah berfirman: "Dan
dirikanlah solat untuk mengingati Aku." [4]

Kedua-dua sebab di atas diberikan kemaafan oleh syari'at kerana ia
adalah bentuk keuzuran manusia yang diluar kemampuannya. Akan tetapi
kemaafan ini tidaklah diberikan kepada mereka yang sengaja lagi
sedar bertujuan berbuat sedemikian. Contohnya orang yang sengaja
tidur di akhir waktu solat padahal dia masih belum solat maka dia
dipandang sebagai berdosa besar kerana sengaja mencari helah untuk
tidak solat. Demikian juga hukum yang sama bagi orang yang sengaja
menyibukkan dirinya dengan sesuatu yang sememangnya akan membawa
kepada kelupaan seperti sengaja mengasyikkan diri dengan permainan
sukan di akhir waktu solat sehingga tertinggal solatnya itu.
Perbuatan sebegini membawa bebanan dosa yang amat besar ke atas
orang itu dan dia selain wajib mengqadha solat tersebut, dituntut
agar segera bertaubat dan memperbetulkan dirinya.

Termasuk dalam kategori orang yang tertidur, melalui kaedah qiyas,
ialah orang yang pitam atau pengsan. Maka bagi mereka dimaafkan
solat yang tertinggal itu akan tetapi apabila sedar semula wajib
diqadha bilangan solat yang tertinggal. Akan tetapi dimaafkan secara
terus orang yang diserang penyakit gila atau koma, di mana kedua ini
adalah sejenis keuzuran yang berpanjangan dan orang yang menghadapi
suasana ini diangkat darinya sebarang kewajipan agama, seperti
solat, puasa, zakat dan sebagainya. Orang yang menghadapi kondisi
ini tidak perlu mengqadha solat yang tertinggal selama tempoh dia
sedang gila atau koma. Walaubagaimanapun perlu dibezakan antara gila
kerana penyakit atau gila kerana mabuk; di mana gila kerana mabuk
adalah perbuatan sengaja manusia itu sendiri dan dia tetap
diwajibkan mengqadha semula solat yang tertinggal apabila waras
kembali.[5]

Kategori ketiga yang membolehkan solat diqadha ialah apabila
seseorang itu tersilap dalam kiraan waktu solatnya. Contohnya ialah
apabila seseorang yang bermusafir ke negara lain lalu tersilap dalam
menentukan zon waktu negara tersebut, kemudian dengan itu
disangkanya bahawa waktu solat itu masih hadir padahal sudah luput
maka bagi dia tiada kesalahan kecuali tetap menunaikan solat
tersebut secara qadha. Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu
waTa'ala: Dan kamu pula tidak dikira berdosa dalam perkara yang kamu
tersilap melakukannya, tetapi (yang dikira berdosa itu ialah
perbuatan) yang disengajakan oleh hati kamu melakukannya. Dan
(ingatlah) Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. [Maksud
surah al-Ahzab 33 - 05] dan juga sabda Nabi sallallahu-alaihi-
wasallam: Sesungguhnya Allah telah memaafkan kerana aku, kesilapan
dan kelupaan dari umat aku serta apa yang mereka lakukan kerana
dipaksa.[6]

Kategori keempat yang membolehkan solat fardhu ditunda dari waktunya
yang asal ialah dalam suasana darurat. Darurat ialah satu kondisi
yang melibatkan keselamatan nyawa dan anggota seseorang itu atau
orang-orang di bawah amanahnya (Life and Death situation). Dari
sudut syari'ah ianya didefinasikan sebagai - Darurat itu ialah
datangnya keadaan bahaya atau kesulitan yang amat berat kepada diri
manusia, yang membuatkan dirinya kuatir akan terjadinya kerosakan
atau sesuatu yang menyakiti jiwa, anggota badan kehormatan, akal
harta dan yang bertalian dengannya.

Ketika ini boleh atau tidak harus mengerjakan yang diharamkan atau
meninggalkan yang diwajibkan atau menunda waktu perlaksanaan guna
bagi menghindari kemudaratan yang diperkira dapat menimpa dirinya
selama tidak keluar dari syarat-syarat yang ditentukan syara'. [7]

Dalil yang membolehkan suasana darurat sebagai faktor membolehkan
penundaan kewajipan solat dari waktunya ialah peristiwa yang berlaku
di ketika Perang Khandak, di mana Rasulullah sallallahu-alaihi-
wasallam dan para muslimin sekalian sedang berada di kegentingan
peperangan mempertahankan Kota Madinah dari serangan musuh sehingga
tidak berkesempatan untuk mendirikan solat Asar. Maka apabila serang
musuh yang bertubi-tubi itu reda di waktu Maghrib, barulah Nabi
sallallahu-alaihi- wasallam serta orang ramai berkesempatan untuk
menunaikan solat Asar mereka, diikuti dengan solat Maghrib.

Jabir bin Abdillah radiallahu-anhu menceritakan: Di ketika Perang
Khandak Umar al-Khattab menyumpah-marah kaum kafir Quraish di ketika
matahari sudah terbenam lalu berkata: Ya Rasulullah ! Saya tidak
sempat mendirikan solat Asar dan matahari sudahpun turun ! Nabi
sallallahu-alaihi- wasallam berkata: Demi Allah ! Aku juga belum
solat ! Dengan itu kami turun ke Buthan (perigi air - P) dan Nabi
berwudhu' dan kami juga berwudhu' dan kemudian kami mendirikan solat
Asar setelah matahari terbenam diikuti dengan solat Maghrib.[8]

Maka dari hadith dan peristiwa di atas para ahli fiqh bersepakat
menyatakan bahawa kondisi yang membolehkan seseorang itu menundakan
solatnya ke waktu yang lain apabila dia berada dalam keadaan sedar
ialah kondisi darurat sahaja. Diulangi bahawa darurat itu ialah
suasana yang membahayakan nyawa seseorang itu atau mana-mana anggota
tubuh badannya. Adapun keuzuran atau apa-apa halangan lain yang
tidak membahayakan nyawa dan anggota maka ia tidaklah membawa kepada
kelonggaran hukum mengqadhakan solat, sepertimana yang akan
dihuraikan di bawah nanti.

Tertib Mengqadha Solat.

Solat-solat yang terluput dari waktunya wajib didirikan semula
secepat mungkin apabila teringat dan sedar dari kondisi terdahulu
kecuali ada sebab tulen yang menghalang seperti terikat dengan
suasana cuaca buruk, amanah berat dan tanggung-jawab yang tidak
dapat ditangguhkan. Solat yang tertunda juga wajib diqadha secara
berturut dan bergiliran, tidak dengan pilihan yang rambang.
Maksudnya ialah orang yang tertidur sehingga luput solat Asarnya dan
kemudian terjaga di waktu solat Maghrib maka bagi dia ialah
menunaikan solat Asar dahulu kemudian diikuti oleh solat Maghrib.
Demikian juga kaedahnya bagi orang yang tertinggal beberapa solat
sekali-gus, dia wajib mengqadhakan solatnya itu mengikut giliran dan
turutan kemudian barulah mendirikan solatnya yang hadir. Kewajipan
ini didasarkan kepada hadith di atas mengenai peristiwa Perang
Khandak di mana Nabi sallallahu-alaihi- wasallam apabila terhalang
solat Asarnya sehingga masuk waktu Maghrib, beliau mengqadha solat
Asar itu terlebih dahulu kemudian baru diikuti oleh solat Maghrib.

Walaubagaimanapun kewajipan ini, berdasarkan ijtihad para fuqaha
[9], dilonggarkan dalam beberapa suasana, iaitu –

1. Apabila waktu solat yang hadir hampir berakhir maka
diharuskan mendirikan solat yang hadir dahulu kemudian diikuti oleh
solat yang hendak diqadha.

2. Apabila sedang solat lalu tiba-tiba baru teringat akan solat
yang tertinggal maka dibolehkan meneruskan solat itu sehingga akhir
kemudian disusuli dengan solat yang perlu diqadha itu.

3. Apabila solat yang perlu diqadha itu melebihi solat sehari,
iaitu melebih 5 waktu maka dilonggarkan kewajipan mengqadhanya
mengikut turutan akan tetapi tetap wajib diqadhakannya secepat
mungkin.

Disini perlu diperbetulkan perbuatan sesetengah yang memilih-milih
secara rambang tentang bilakah dia akan mengqadha solat yang
tertinggal dan mengikut suka hati solat apa yang hendak diqadhakan
dahulu. Sumber-sumber nas jelas menerangkan bahawa solat adalah
ibadah tunggak seorang muslim dan apabila tertinggal ia wajib
diqadha secepat mungkin menurut turutan dan gilirannya. Adapun
memilih-milih sesuka hati bilakah akan diqadha solat yang tertinggal
dipandang sebagai satu perbuatan meremahkan solat dan mempermainkan
tanggung-jawabnya terhadap Allah Azza waJalla dan orang sebegini
dituntut agar segara bertaubat dan memperbetulkan perbuatannya itu.

Keuzuran yang Menghalang Solat.

Uzur ialah keadaan bukan kebiasaan yang sukar, sempit, sulit dan
susah yang dihadapi oleh seseorang sehingga menyebabkan dia
terhalang daripada dapat menyempurnakan keseluruhan tuntutan
syari'at Islam. Keuzuran itu adalah berat tetapi tidak sehingga ke
tahap mendatangkan kebinasaan jiwa atau anggota. Dalam ertikata lain
uzur ialah kesusahan yang satu tingkat di bawah darurat.[10]
Keuzuran dalam konteks perlaksanaan solat ialah suasana-suasana
sukar, sulit dan susah yang menghalang seseorang itu daripada dapat
mendirikan solatnya secara sempurna lagi tepat. Apabila berhadapan
dengan suasana sebegini, syari'at Islam memberikan beberapa
kelonggaran hukum kepada orang yang dibebani dengan keuzuran itu
tetapi syari'at tidak mengangkat kewajipan solat dari orang
tersebut, lelaki mahupun wanita.

Contohnya orang yang menghadapi kesukaran mencari arah qiblat
dibolehkan bersolat ke arah yang dijangkanya paling tepat, orang
yang sakit dibolehkan solat secara duduk atau baring dan orang yang
solat dalam kenderaan juga dibolehkan solat di atas kerusi duduk
asalnya jikalau bimbangkan keselamatan diri. Kesemua ini tergolong
dalam kelonggaran hukum yang diberikan oleh as-Syari'at tetapi
mereka semua tetap diwajibkan mendirikan solat tersebut dalam
waktunya yang ditetapkan. Apabila seseorang itu benar-benar
menghadapi suasana keuzuran seperti ini dan tiada pilihan lain untuk
dia, maka solat yang didirikannya itu sekalipun tidak sempurna
syarat-syarat dan rukun-rukunnya, ia tetap dikira sah dan tidak
wajib diqadha semula apabila suasana kembali normal. Hanya
sebahagian dari ulama'-ulama' Mazhab Shafie yang menyarankan supaya
solat tersebut diqadha semula atas dasar hati-hati dan mengambil
pilihan yang lebih selamat.

As-Syari'at tidak membenarkan sama sekali umat Islam menangguhkan
solatnya ke waktu lain atas alasan akan mengqadhanya kerana apa-apa
sebab sekalipun kecuali darurat, iaitu satu suasana yang melibatkan
ancaman bahaya ke atas nyawa atau anggota, samada kepada dirinya
atau atas tanggungannya. Contoh orang yang berada dalam suasana
darurat ialah perajurit yang berada di medan peperangan sengit,
seorang bidan yang sedang menguruskan kelahiran anak di waktu yang
sempit seperti di pagi subuh, seorang doktor yang sedang menjalankan
pembedahan genting dan seorang juruterbang pesawat yang menghadapi
suasana kecemasan. Apabila bersemuka dengan kondisi sebegini atau
yang seumpama, seseorang itu dibolehkan untuk menunda solatnya ke
waktu lain dengan cara mengqadhanya.

Akan tetapi, sekalipun berhadapan dengan suasana darurat lagi
membahayakan, seseorang itu dituntut agar mencari alternatif lain
untuk tetap bersolat, seperti mencari bidan lain sebagai pengganti,
bergilir-gilir di medan pertempuran dan sebagainya. Selain itu
suasana bahaya yang dihadapi adalah suasana yang benar-benar
kritikal lagi merbahaya, bukan sekadar takut-takut atau risau-risau.
Ini mengingatkan kepada perbuatan Nabi sallallahu-alaihi- wasallam
dan para sahabatnya yang tetap bersolat apabila berada hampir di
sempadan peperangan. Mereka solat secara berjamaah dengan sekelompok
bersolat manakala sekelompok lagi bersiap sedia menghadapi musuh.[11]

Daripada keterangan-keterang an di atas, ingin dinyalakan perhatian
kepada para pembaca sekalian bahawa solat-solat yang fardhu 5 kali
sehari ialah satu perintah wajib agama yang tidak boleh ditinggalkan
sama-sekali kecuali atas beberapa suasana yang dikecualikan oleh
agama. Suasana itu ialah tertidur, terpitam, terpengsan, terlupa,
tersilap, gila, koma dan suasana darurat. Selain dari suasana-
suasana di atas seseorang itu tetap diwajibkan melaksanakan solat-
solat fardhunya. Sekalipun berhadapan dengan apa jua kesukaran,
kesempitan, kesulitan atau kesusahan, dia tetap wajib melaksanakan
solat-solat fardhunya dalam waktu yang ditetapkan. Tidak boleh
menundanya ke waktu terkemudian atas alasan akan mengqadhanya.
Syari'at Islam tidak pernah memberikan kemaafan untuk tidak bersolat
dalam suasana kesusahan tetapi ia memberikan berbagai kelonggaran
hukum dan kaedah pilihan bagi setiap orang untuk tetap mendirikan
solat, dan hukum yang diperlonggarkan itu adalah selari dengan kadar
kesulitan yang dihadapi oleh setiap individu dalam setiap masa yang
tertentu. Ini semua dilakukan supaya umat tetap berkebolehan untuk
melaksanakan solat-solat fardhunya dalam masa yang ditetapkan.

Oleh itu perlu dijelaskan bahawa perbuatan sebahagian kecil yang
pantas mengambil jalan mudah untuk mengqadha sahaja solat apabila
bersemuka dengan apa-apa kesulitan adalah perbuatan yang menyalahi
ajaran Islam dan roh tuntutan as-solat itu sendiri. Perbuatan
sebegini perlu dihentikan serta-merta dan dijadikan daya keinsafan
agar tetap mendirikan solat dalam waktunya sekalipun berhadapan
dengan apa jua kesukaran. Berbagai kelonggaran hukum telah diberikan
oleh syari'at Islam, oleh itu tuntutlah ilmu agar dapat mengenal
pasti apakah kelonggaran itu dan supaya ia dapat diamal-guna oleh
diri empunya apabila suasana dan kondisi menjemput.

Sebenarnya jikalau kita benar-benar merenungi halangan atau keuzuran
yang melintas dihadapan kita dalam usaha melaksanakan perintah Allah
Azza waJalla, ianya tidaklah sebesar mana atau sesukar mana. Lumrah
manusia ialah apabila sahaja dia berhadapan dengan sesuatu yang lain
dari kebiasaan, berbagai bukit dan gunung tiba-tiba sahaja muncul
merintanginya. Padahal bukit dan gunung itu tidak lain hanyalah
imaginasinya sendiri. Dalam suasana mendirikan ibadah, kita selalu
menghadapi berbagai rintangan yang semuanya hanyalah imaginasi kita
sendiri dan juga bisikan-bisikan syaitan iblis di celah-celah nafsu
diri. Ini semua mudah sahaja ditepis jikalau kita yakin akan
kehadiran Allah Subhanahu waTa'ala yang sentiasa akan menolong kita
dalam apa jua masalah atau kesukaran. Allah Subhanahu waTa'ala
menjanjikan hal ini dengan firmanNya: Oleh itu ingatilah Aku,
(nescaya) Aku akan mengingati kamu. [Maksud surah al-Baqarah 02 -
152]

Allah Subhanahu waTa'ala juga menjanjikan kesenangan dan kemudahan
kepada orang yang bertawakkal kepadaNya dalam rangka tujuan dia
beramal ibadah kepadaNya, dengan firmanNya: Bahkan sesiapa yang
menyerahkan dirinya kepada Allah (mematuhi perintahNya) sedang ia
pula berusaha supaya baik amalannya, maka ia akan beroleh pahalanya
disisi Tuhannya, dan tidaklah ada kebimbangan (dari berlakunya
kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak
akan berdukacita. [Maksud surah al-Baqarah 02 - 112]

Begitu juga kemudahan yang Allah Azza waJalla janjikan kepada orang-
orang yang bertaqwa kepadaNya dan benar-benar berusaha memelihara
ketaqwaannya, melalui firmanNya yang bermaksud: Dengan hukum-hukum
yang tersebut diberi pengingatan dan pengajaran kepada sesiapa yang
beriman kepada Allah dan Hari Akhirat; dan sesiapa yang bertaqwa
kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan
laranganNya) , nescaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar
(dari segala perkara yang menyusahkannya) . [Maksud Surah at-Talaaq:
65 - 02]

Daripada janji-janji Allah Azza waJalla ini berkeyakinanlah bahawa
apa sahaja kesukaran atau keuzuran yang kita hadapi dalam usaha
untuk menunaikan ibadah solat, tentu sahaja akan dipermudahkan oleh
Allah apabila kita benar bersungguh-sungguh untuk melaksanakannya.
Sebaliknya jikalau kita banyak berdalih atau beralasan atau
berkeberatan, maka dengan tersangat pantas akan tibalah syaitan
iblis dan kuncu-kuncunya menolong dan membantu kita agar tidak
bersolat atau dibisikkan sahaja kepada kita untuk menangguhnya ke
waktu yang lain. Oleh itu tetapkanlah pendirian hati bahawa kita
akan bersolat tidak kira apa atau bagaimana rintangannya, nescaya
apa yang kita cita-citakan itu mudah tercapai dengan pertolongan dan
petunjuk Allah Subhanahu waTa'ala.

Solat Hormati Waktu.

Seperkara lain yang perlu ditegakkan di sini ialah berkenaan
pendapat sesetengah di tanah air yang mengharuskan seseorang itu
bersolat dalam suasana kesukaran atau kesulitan dengan cara solat
hormati masa atau solat mengingati waktu ; iaitu seseorang itu
hanyalah dituntut bersolat fardhu secara ala kadar dalam waktunya
yang hadir tetapi solatnya itu hanya akan menjadi sah apabila dia
mengqadhanya kembali di lain masa apabila hilang kesukaran tersebut.
Contohnya bagi seseorang yang tidak dapat menghadap qiblat dalam
pesawat terbang, dia dianjurkan untuk melaksanakan solat secara
hormati waktu kemudian apabila telah tiba di destinasi atau pulang
ke rumah dia dituntut mengqadha kembali solat tersebut. Solat yang
pertama itu hanyalah dikira sebagai sementara manakala solat yang
sebenar ialah apabila dia mengqadhanya di kemudian masa.

Dalam kajian serta analisa penulis, teori ini atau apa jua yang
seumpama tidak ditemui mana-mana dalilnya samada secara langsung
atau tidak langsung (qiyas) daripada sumber-sumber nas samada al-
Qur'an mahupun as-Sunnah atau dari mana-mana kitab fiqh muktabar
dahulu dan sekarang. Ia juga bertentangan dengan keseluruhan
tuntutan syari'at yang mewajibkan seseorang itu tetap mendirikan
solat fardhunya dalam apa jua suasana dan kondisi kecuali darurat
yang melibatkan keselamatan nyawa anggota badan. Memberikan
alternatif mengqadha solat dengan sewenang-wenangnya adalah satu
ajaran yang bercanggah dengan syari'at dan akhirnya hanya akan
menjemput kepada perbuatan meremeh-remehkan agama itu sendiri apatah
lagi ibadah solat yang merupakan tiang utama agama Islam.

Seandainya solat hormati waktu itu wujud sudah tentu baginda Nabi
sallallahu-alaihi- wasallam akan mengajarnya kepada para sahabat di
ketika menghadapi suasana kegentingan peperangan tetapi yang jelas
mereka semua tetap mendirikan solat fardhu selengkap mungkin tanpa
mengqadhanya di lain masa. Apakah bandingannya solat berhadapan
dengan senjata musuh dengan solat di dalam kenderaan yang serba
selesa lagi berhawa dingin ? Sudah tentu tiada bandingan dan sudah
tentu tiada alasan untuk kita mengamalkan teori solat hormati waktu
dan mengqadhanya pula di lain masa. Akhir kata nasihat penulis
kepada para pembaca budiman sekalian ialah tetapkanlah keazaman dan
kesungguhan diri untuk tetap melaksanakan solat fardhu sesempurna
mungkin tidak kira apajua kesukaran yang ditempohi dan janganlah
difikir-fikirkan teori solat hormati waktu itu atau apa jua yang
seumpama.

Kesimpulan

1. Apabila seseorang itu tertinggal solat dari waktunya atas
sebab-sebab yang di luar kawalan atau kesedarannya, maka dia tidak
dihukum apa-apa kecuali wajib mendirikan semula solat tersebut
apabila sahaja teringat. Boleh juga menangguhkan solat sehingga ke
waktu lain apabila seseorang itu menghadapi suasana darurat yang
membahayakan kehidupan. Mendirikan solat di luar waktunya digelar
sebagai mengqadha solat.

2. Solat-solat yang tertinggal hendaklah didirikan semula secara
qadha mengikut tertib dan turutannya.

3. Apabila seseorang itu menghadapi kesulitan atau kesukaran
untuk menyempurnakan solatnya secara lengkap mengikut setiap hukum
dan rukunnya, dia tetap diwajibkan mendirikan solat tersebut pada
waktunya. Syari'at Islam memberi pelbagai kelonggaran hukum bagi kes
seperti ini tetapi ia tidak mengangkat kewajipan solat tersebut
daripada dilaksanakan tetap pada waktunya.

4. Tidak wujud sebarang dalil atau penerangan dari al-Qur'an
atau as-Sunnah mengenai kaedah solat hormati masa atau apa-apa yang
seumpama.

____________ _________ _________ _________ _
[1] Prof. Dr. Wahbah Zuhaili - Fiqh dan Perundangan
Islam, 2/144.

[2] Sesetengah pendapat lain menambah dua lagi kategori
bagi orang yang wajib qadha solat, iaitu orang Islam yang murtad
kemudian kembali semula memeluk Islam dan kedua, orang Islam yang
melalaikan solat lalu kemudian bertaubat di hari tuanya, maka dia
wajib mengqadha semua solat-solat fardhu yang tertinggal sejak akil
baligh sehingga hari dia bertaubat. Kedua-dua pendapat ini tidak
mempunyai dalil kuat untuk menyokongnya dan lemah pula jikalau
dibanding dengan dalil-dalil yang lain.

[3] Maksud hadith dari Anas bin Malik radiallahu-anhu,
riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Misykat al-Masabih, 3/181/046.

[4] Maksud hadith dari Qatadah radiallahu-anhu riwayat
Imam Muslim, Misykat al-Masabih, 3/181/047.

[5] Huraian yang lengkap, lihat Prof. Dr. Wahbah
Zuhaili - Fiqh dan Perundangan Islam, 2/145-151 dan Shaikh Abdul
Rahman al-Jaziri - Fiqh 'Alal Madzhibil Arba'ah, 2/248-253.

[6] Maksud hadith dari Abu Dzarr al-Ghaifiri dan
Abdullah ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Ibnu Hibban,
al-Hakim, at-Thabrani dan ad-Daruquthni; dinilai sebagai hadith
hasan oleh Imam an-Nawawi sebagaimana dinyatakan oleh Imam as-Suyuti
dalam al-Asybah wa al-Nazha'ir, ms 166.

[7] Prof. Dr. Wahbah Zuhaili - Nazhariyah al-Dlarurah
al-Syari'ah, ms 72

[8] Maksud hadith dari Sahih Bukhari 1/ 570 dan 2/560.

[9] Huraian yang lengkap, lihat Prof. Dr. Wahbah
Zuhaili - Fiqh dan Perundangan Islam, 2/154-159 dan Shaikh Abdul
Rahman al-Jaziri - Fiqh 'Alal Madzhibil Arba'ah, 2/253-256.

[10] Prof. Dr. Wahbah Zuhaili - Nazhariyah al-Dlarurah al-
Syari'ah, ms 268.

[11] Ini digelar Solat Khauf dan ia disyari'atkan dengan
turunnya ayat 102 dari surah an-Nisaa' selepas peristiwa Perang
Khandak. Terdapat perbincangan yang mendalam di kalangan ahli-ahli
ilmuan samada pengsyari'atan solat Khauf ini membatalkan kebolehan
untuk tidak bersolat dalam suasana darurat. Pendapat yang terpilih
ialah pendapat yang dipertengahan iaitu seharusnya bersolat secara
solat Khauf dikala peperangan akan tetapi apabila suasana menjadi
tersangat genting maka dibolehkan menangguh solat itu atas dasar
darurat. Ini lebih mendekati kebenaran memandangkan setiap pasukan
atau individu itu mempunyai tahap keutuhan diri yang berbeza-beza
antara satu sama lain. Lihat dan kaji seterusnya dalam bab ini serta
berbagai kaedah melaksanakan solat Khauf dalam mana-mana kitab fiqh
muktabar.