Tuesday, December 19, 2006

Tak kenal maka tak benci ???

Bismillah...
Alhamdulillah... Selawat & salam hanya untuk baginda SAW...

Aku suka mendengar nasyid-nasyid lama, yang punyai mesej yang lebih bermanfaat daripada nasyid-nasyid kontemporari, yang kebanyakan membawa mesej cinta remaja. Biarlah siapa pun yang mahu mengatakan aku ketinggalan zaman ataupun kolot, tapi aku tetap mempertahankan pendirianku.

Adapun nasyid-nasyid lama ini juga ibarat satu nostalgia buatku, mengingatkan aku dikala aku masih kecil. Tak kurang juga nasyid-nasyid ini masih menggunakan peralatan-peralatan muzik yang dibenarkan syara' serta boleh aku katakan sebagai original, tidak seperti nasyid-nasyid kontemporari yang menggunakan peralatan-peralatan yang canggih.

Pagi tadi, selepas subuh, aku mendengar salah satu nasyid yang bagi aku mengingatkan aku kepada sesuatu yang aku kenal, dan menjadikan aku lebih benci kepadanya....

Aku kongsikan di sini lirik dan nasyid tersebut....

_______________________________________________________________

Tersebut Al-kisah,
Syaitan penggoda, syaitan durjana,
Nabi Adam & Hawa,
Ditipu daya, tersingkir ke dunia.(1)

"Aku berasal daripada api"
Syaitan mendabik dada
"Sedang Adam berasal dari tanah,"
"Aku lebih mulia" (2)

Alangkah kejinya kedegilan dan keangkuhannya,
Ia menentang Tuhan, melalui Adam hamba-Nya. (3)

Awas manusia janji syaitan kepada kita,
Menggoda insan dari awal hingga akhirnya, (4)
Janganlah leka hindarilah tipu dayanya,
Syaitan pendusta, ia anak neraka. (5)

Nasyid bertajuk Awas Penggoda daripada kumpulan Suara Firdaus
_______________________________________________________________

(1) Bagaimanakah Nabi Adam Alaihissalam & Hawa ditipu daya hingga tersingkir ke dunia?

Firman Allah :

Baqarah : 36

36. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu[38] dan dikeluarkan dari keadaan semula[39] dan kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."

[38] Adam dan hawa dengan tipu daya syaitan memakan buah pohon yang dilarang itu, yang mengakibatkan keduanya keluar dari surga, dan Allah menyuruh mereka turun ke dunia. yang dimaksud dengan syaitan di sini ialah Iblis yang disebut dalam surat Al Baqarah ayat 34 di atas.

[39] maksud keadaan semula ialah kenikmatan, kemewahan dan kemuliaan hidup dalam surga.


A'araf : 20-22

20. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".

21. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua",

22. Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya Telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?"


(2) Syaitan yang bangga dengan dirinya.

A'araf : 12

12. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" menjawab Iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".


(3) Syaitan mengingkari perintah Allah.

Baqarah : 34

34. Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

[36] sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, Karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.

A'araf : 11

11. Sesungguhnya kami Telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, Kemudian kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", Maka merekapun bersujud kecuali iblis. dia tidak termasuk mereka yang bersujud.

(4) Apakah permintaan Syaitan kepada Allah SWT & janjinya kepada manusia?

A'araf : 14-16

14. Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya[529] sampai waktu mereka dibangkitkan".

15. Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."

16. Iblis menjawab: "Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,

[529] Maksudnya: janganlah saya dan anak cucu saya dimatikan sampai hari kiamat sehingga saya berkesempatan menggoda Adam dan anak cucunya.

A'araf : 17

17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

(5) Peringatan Allah kepada manusia.

Dalam surah Al-A'araf : 22 Allah telah memperingatkan manusia yang sesungguhnya syaitan itu merupakan musuh kita yang nyata. (Rujuk ayat & terjemahan di atas)

____________________________________________________________________________

Mungkin ada sahabat-sahabat yang lebih mengenali 'mereka' ini... Aku hanya sekadar mengingatkan kita untuk menyuburkan lagi rasa benci kita kepada 'mereka' , agar tidak lagi ditipu daya....

Wallahua'alam...

Ya Allah,
Tiadalah tempat lain bagiku untuk memohon perlindungan melainkan pada Mu,
Lindungilah hamba-Mu ini daripada perasaan yang dicipta oleh hawa nafsu & bisikan syaitan...

Amiiin....


-Syphoon-
Irbid, Jordan
1600, 28 Zulkaedah 1427

Sunday, December 17, 2006

AKSES PEMIKIRAN ISLAM (API)





Bismillah...
Alhamdulillah... Selawat & salam atas Baginda SAW....

AKSES PEMIKIRAN ISLAM (API)

Objektif:

Merupakan akses ( satu cara memperoleh maklumat ) berkaitan aspek ilmu asasi Islam kepada Mahasiswa di Jordan yang dirangka MPPM. Bertujuan melahirkan golongan yang sanggup berbakti kepada masyarakat dengan ilmunya. Juga menunjukkan semangat yang berkobar-kobar motivasi aqidah yang murni

Pengenalan :

Akses Pemikiran Islam (API) merupakan salah satu program di bawah Nadwah Ulama' & Ilmuan Muda (NUIM) anjuran Majlis Perwakilan Pelajar Malaysia (MPPM) Jordan.

Program ini diwajibkan di semua mantiqah, bermaksud semua Persatuan Zon (PZ) wajib melaksanakan program ini.

Berikut merupakan butiran berkenaan API yang akan diadakan oleh pihak Persatuan Mahasiswa Malaysia Irbid (PERMAI) Jordan :

Tarikh/Hari:
Jumaat
1 Zulhijjah 1427 bersamaan 22 Disember 2006

Masa :
8.30 pagi - 2.30 petang

Tempat :
Dewan Al-Farabi, Universiti Yarmouk

Sasaran :
Para mahasiswa Tahun 1 & 2

Tentatif Ringkas :

Pembentangan Kertas Kerja 1 :
Aqidah Islamiyyah : Tasawwur & Implikasi
oleh :
Ustaz Wan Yusrizal bin Wan Shafie
Presiden MPPM Jordan

Pembentangan Kertas Kerja 2 :
Konsep Nasihat & at-Ta'awun dalam Islam
oleh :
Dr. Muhammad Amin bin Tunai Shamsidi
Timbalan Presiden PERMAI

Diskusi secara berkumpulan

Meskipun sasaran yang telah ditetapkan oleh pihak MPPM adalah mahasiswa & mahasiswa tahun 1 & 2, namun penyertaan tetap dibuka kepada seluruh warga PERMAI yang berminat.

Butiran mengenai program akan dikemaskini dari masa ke masa.

Pendaftaran adalah percuma. Mana-mana warga PERMAI yang berminat bolehlah mula mendaftar dengan menghantar e-mel/YM ke permai2004@yahoo.com.

InsyaAllah sarapan pagi & makan tengahari akan disediakan pada hari program diadakan.

Pihak PERMAI mengharapkan komitmen & kerjasama yang padu daripada seluruh warga PERMAI dan segalanya pihak PERMAI dahului ucapan ribuan terima kasih.


Wallahu'alam...

untuk maklumat lanjut bolehlah menghubungi :

Presiden PERMAI - syababul_jabal@yahoo.com
YM PERMAI - permai2004@yahoo.com


-Syphoon-
Irbid, Jordan
1426, 26 Zulkaedah 1427

Sunday, December 10, 2006

Resolusi

Bismillah...
Alhamdulillah, segala-galanya hanya untuk-Mu, selawat dan salam ke atas junjungan besar, Muhammad SAW...

Resolusi merupakan satu perkataan yang lebih advanced berbanding kesimpulan. Resolusi merupakan satu kesimpulan, yang disusuli dengan tindakan, ataupun kesimpulan yang praktikal. Kita belajar sesuatu hari ini dan membuat kesimpulan. Tapi kesimpulan tersebut tidak boleh dipraktikkan, maka kesimpulan tersebut bukanlah satu resolusi.

Perbincangan kumpulan MEKAP ku tempoh hari telah membawa beberapa resolusi yang menarik, dan ingin aku kongsikan bersama di sini.


1- "Improvement itu mesti, tapi bagaimana? " soal hati kecilku.
Berdasarkan hadith ke-11 dalam Hadith 40 susunan Imam Nawawi, yang mafhumnya, "Hendaklah kita tinggalkan perkara yang diragui kepada perkara yang kita yakini". Kita menjadi yakin apabila kita punyai pengetahuan mengenai perkara yang kita ragui.

Misalnya, aku meragui apa yang dibawa oleh A dalam begnya, lalu aku bertanya pada A, "Apa yang ade dlm beg hang tu?" dan A memberikan jawapannya dengan menunjukkan apa yang ada dalam begnya. Maka aku tahu dan kini aku yakin apa yang ada dalam beg si A itu tadi.

Atau contoh lain, dalam exam, ketika aku menjawab soalan, aku meragui apa yang aku jawab, lalu apabila selesai, aku membuka buku dan membaca, mencari jawapan untuk soalan tadi. Bermakna aku membaca untuk menambah pengetahuan, dan menjadikan aku lebih yakin dengan jawapan aku itu tadi, yakin sama ada apa yang aku jawab itu betul, atau yakin dengan apa yang aku jawab tadi adalah salah. Andai aku tidak mahu membuka buku, aku bertanya pada classmateku.

Untuk improve dalam second exam, aku harus meningkatkan pembacaanku. Meningkatkan pembacaan dapat meningkatkan ilmu pengetahuan. Sifir yang mudah, tingkatkan pembacaan = tingkatkan ilmu pengetahuan.

Begitu juga dengan amal Islami, bagaimana untuk improve? Salah satunya dengan meningkatkan ilmu pengetahuan. Aku meragui solatku, "Sempurna ke x aku solat tadi? Ada kotor-kotor sket kat seluar aku ni" , lalu aku rujuk pada orang yang sepatutnya, senior-senior aku yang belajar mengenai Feqah di Universiti Yarmouk. Aku mendapat ilmu yang baru, menjadikan aku lebih yakin, sama ada solatku tadi, sempurna atau tidak.

2- Selepas improve, apa pula? Konsisten.

Katakan aku mendapat 30/30 dalam first exam, apa yang perlu aku lakukan? Teruskan sahaja dengan cara study ku itu. Andai cara tersebut berkesan, maka aku seharusnya teruskan secara konsisten.

Begitu juga dengan amal Islami. Bukan sahaja perlukan pada improvement, tetapi perlu juga kepada konsistensi. Sebagai contoh, aku yang semalamnya solat berjemaah 4 waktu di masjid, dan hari ini, Alhamdulillah, aku telah berjaya untuk solat 5 waktu berjemaah di masjid. Tapi selepas itu, apa lagi? Hendak bersolat 6 waktu di masjid? Apa yang perlu aku lakukan adalah konsisten dalam menunaikan solat 5 waktu berjemaah di masjid.

Atau, hari ini aku menghadiri program Introspeksi Iman, yang berlangsung selepas Isya', maka aku seharusnya konsisten untuk menghadiri program tersebut. Ada juga aku lihat sesetengah orang, yang hari ini telah solat cukup 5 waktu berjemaah di masjid, esoknya tidak mahu solat berjemaah, dek kerana tidak tahu apa lagi yang hendak di improve kan. "Xpe je, hari ni dah cukup 5 waktu , sok xyah pun xpe la...xde mende nak upgrade dah lusa kalo hari-hari same je..." Ah...cetek sungguh pandangan tersebut. Tapi itulah realiti!

Dua resolusi yang kumpulan MEKAP ku gapai ini aku kongsikan di sini, mudah-mudahan menjadi panduan untuk kita IMPROVE dan KONSISTEN bukan sahaja dalam kehidupan dan pembelajaran, malahan dalam kita mengamalkan amal Islami kita.

Wallahua'alam

Ya Allah,
Tambahkanlah pengetahuanku & Kurniakanlah aku kefahaman...
Berikanlah aku kekuatan agar aku terus istiqamah di jalan-Mu...

Amiiiin...

-Syphoon-
Irbid, Jordan
1527, 19 Zulkaedah 1427

Saturday, December 09, 2006

Self-Improvement

Bismillah...


Hadith ke 11 - Matan 40 An-Nawawiah


Alhamdulillah... dikala ini aku masih bernafas, masih dipancarkan oleh-Nya Nur Iman dan Nur Islam. Selawat dan salam untuk junjungan besar Muhammad SAW...

Selasa lalu, pintu rumahku diketuk oleh jiranku, saudara x_mummy, kartunis terkenal Al-Qalam. Mulanya aku tidak mahu membuka pintu selepas aku bertanya "Sape kat luar tu?" dan dibalas dengan "saya". Amat pantang aku sekiranya aku bertanya sedemikian dan dijawab sebegitu rupa. (1)

Kedatangan x-mummy menghulurkan makalah Al-Qalam keluaran terbaru. Tajuk Self-Improvement yang menjadi fokus utama Al-Qalam bulan ini, pada mulanya tidak menarik minatku. Malam itu, aku sekadar mengambil dan meletakkan makalah tersebut di atas meja tulisku.

Malam sebelum itu, saudara waruza atau lebih dikenali dengan Che Mi, menegurku. "Nak bincang ape Khamis ni?" Ligat otakku berputar, mencari idea. "Kita bincang hadith la plak Che Mi.." Dan malam itu aku membuka file Hadith 40 di dalam komputerku, mencari hadith yang ringkas untuk diberi tugasan kepada ahli-ahli MEKAP ku.

Secara spontan, aku memilih hadith di atas. Aku buzz "YM" Che Mi dan menyatakan ideaku itu. Pada awalnya, memang aku tidak berfikir panjang, hanya mencari mana yang sesuai, lantasku "petik" sahaja daripada Matan 40 tersebut.

Hadith yang bermaksud, "Tinggalkanlah apa yang meragukan engkau, kepada apa yang tidak meragukan engkau". Secara zahirnya, hadith ini berkaitan dengan hadith yang menyatakan hal-hal syubhah (2). Ataupun mafhum hadith ini adalah "Tinggalkan apa yang kita ragui, kepada apa yang lebih kita yakini".

Aku cuba mencari sesuatu yang tersirat disebalik hadith ini. Secara tidak langsung, hadith ini menunjukkan pada kita supaya membuat satu improvement pada diri kita. Meninggalkan perkara yang diragui, kepada perkara yang diyakini, merupakan satu improvement.

Mafhum firman Allah : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum itu, melainkan mereka sendiri yang mengubahnya". Salah satu dalil naqli telah ku dengari sejak aku berada di tingkatan 1. Cuba ku kaitkan dengan pembelajaranku yang lain, semuanya berbalik kepada faktor KEMAHUAN. Aku tahu aku harus berubah, namun jika tiada kemahuan, semuanya hanya sekadar angan-angan.

Ya, improvement memerlukan satu kemahuan, apatah lagi kiranya improvement itu SELF-IMPROVEMENT. Takkan aku mahu pepatah Melayu, "Sudah terantuk, baru tengadah"(tolong betulkan kalau pepatah ini silap) ? Atau lebih mudah jika aku katakan dalam ertikata seorang pelajar, TAKKAN DAH FAIL BARU NAK SEDAR?

Saidina Ali R.A pernah berkata, "Beruntunglah mereka yang hari ini lebih baik daripada semalam, dan celakalah mereka yang hari ini lebih buruk daripada semalam" Seorang muslim atau seorang mukmin, tidak akan melakukan kesilapan berulang kali. Pengajaran semalam dijadikan batu loncatan untuk terus berjaya pada hari ini. Tapi, syaratnya, mahu. Mahu belajar daripada kesilapan semalam. Tiada kemahuan, tidak akan memberi keMAMPUan untuk tidak mengulangi kesilapan semalam.

Sistem penilaian di Jordan, berbentuk Multiple Choice Question (MCQ). Penilaian dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu semester. Aku boleh katakan seawal aku sampai dahulu, "Alah...MCQ je, takyah baca susah-susah la..." Tapi kini aku mengerti, walaupun MCQ, namun soalan-soalan boleh tahan juga. Aku juga pernah mengeluh, kerana terlalu banyak exam, 3 kali penilaian 1 semester, kalau ada 5 subjek, maknanya 15 penilaian yang aku harus hadapi 1 semester.

Sebenarnya, sekiranya aku bersikap optimis, penilaian 3 kali 1 semester memberikan peluang kepada aku untuk aku improve. Andai exam pertama aku mendapat markah yang rendah, maka untuk exam yang kedua, aku sepatutnya study lebih kuat untuk skor. Begitu juga sekiranya berlaku pada exam yang kedua, aku masih diberi peluang dalam final exam. Alhamdulillah...

Andai aku buka skop ini kepada satu ruang yang lebih besar, dapat aku kaitkan dengan kehidupan harian ku. Boleh aku hitung, "Semalam pegi solat jemaah kat masjid 2 kali je...hari ini mesti pegi 3 kali kalo xde pape aral melintang". Senang sahajakan matematik ini? Atau "Semalam xpegi introspeksi Iman...hari ini, xkan xnak pegi lagi kot?"

Andai untuk exam, ratusan muka surat boleh aku baca, berjam-jam masa boleh ku luangkan, tapi kenapa untuk Allah tidak boleh aku korbankan 15 minit ku untuk sujud menyembah-Nya? Takut dengan 15 minit itu jika aku membuat perkara lain aku akan gagal dalam exam?

Islam tidak pernah mengajarku yang kejayaan yang berfaktor daripada usaha semata-mata. Semuanya berpunca dari Allah. Segala-gala milik-Nya. Andai exam yang susah itu dapat aku improve, daripada 15/30 untuk first exam kepada 25/30 untuk second exam , kenapa tidak dengan amal Islami ku? (3)

Improvement kehidupanku di dunia ini haruslah berkadar langsung dengan kehidupan di akhirat kelak. Tiada guna andai kedua-dua berkadar songsang. Tidak kira aku improve di dunia tapi gagal untuk kehidupan akhirat, ataupun sebaliknya....

Ya Allah,
Selamatkanlah kehidupanku di dunia, dan selamatkanlah juga aku di akhirat kelak, daripada azab api neraka-Mu...

Amiiiin...

Wallahua'alam...

-Syphoon-
Irbid, Jordan.
1405, 19 Zulkaedah 1427

(1) Hadith ke 877 - Riyadhus Solihin
-hadith ini memberikan penjelasan bahawa Rasul SAW tidak menyukai apabila seseorang itu ditanya "Siapa?" dan dijawab dengan "Saya". Hadith yang ke 876 menunjukkan salah seorang ummul mukminin, apabila ditanya oleh Rasul SAW "Siapa?" dan dia menjawabnya dengan menyatakan namanya.


(2) Hadith ke-6 - Hadith 40 susunan Imam Nawawi
(3) Hadith ke-19 -
Hadith 40 susunan Imam Nawawi
-Hadith ini menyuruh kita untuk memelihara hak-hak Allah, dan sebagai ganjarannya, Allah akan memelihara hak-hak kita.

Saturday, December 02, 2006

Mahu tetapi Malu...

Alhamdulillah...Selawat dan Salam ke atas junjungan besar Muhammad SAW...

Firman Allah :Surah Al-'Alaq : 6 - 19


Sungguh panjang malam ini... 12 Zulkaedah 1427... Bermula selepas Isya' , aku telah membuang masaku di hadapan komputer, menatap telefon bimbitku yang bermasalah, menekan itu dan ini. Masa berlalu begitu pantas. Sedar-sedar sudah jam 2300. Cuba untuk aku tidur, tetapi mataku masih tidak mahu terlelap. Mungkinkah sudah puas lena di siang hari?

Sedang aku mundar-mandir di dalam bilikku, mencari 'mood' untuk aku tidur, teringat aku akan perjumpaan MEKAP kali pertama, Khamis lalu. Lantas aku mendapatkan buku catatanku di atas meja untuk melihat apa yang boleh di follow up untuk akan datang.

"Kita selalunya baca surah Al-'Alaq ayat 1-5, dan kita terlepas pandang pada ayat yang seterusnya sehingga akhir tu." Begitulah lebih kurang briefing yang diberikan oleh Presiden PERMAI 4 hari sebelum itu. Tersentak aku ketika itu, kerana aku turut berada dalam golongan tersebut, yang terlepas pandang.

Surah Al-'Alaq, pada awal menceritakan akan kepentingan ilmu, manakala bahagian yang lain menceritakan perihal mereka yang beramal dan menyebarkan ilmu itu. Halangan yang akan ditempuhi oleh mereka yang bergelar dai'e dan panduan bagi golongan tersebut.

Ligat fikiranku berputar... Mengaitkan dengan realiti yang hakiki. Golongan yang manakah aku berada? Teringat aku ketika aku berada di sekolah menengah "Aku bukan xnak ... tapi segan ar..satgi orang kate ape plak kan... Bukan org je yg kate...ko pun kate aku skalik nanti..."

Dalam kita beramal & menyampaikan ilmu, sudah tentu akan ada yang menghalang. Bukanlah halangan itu untuk memberhentikan kita, tetapi untuk menguatkan lagi keazaman kita. Akan ada satu golongan, yang sanggup berkumpul menggembleng tenaga, mengerahkan keringat bagi menggagalkan kita.

Di golongan manakah aku berada? Teringat aku akan satu hadith yang mafhumnya : Jauhilah hasad, sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan, sebagaimana api memakan kayu (1) Andai aku berada di golongan yang yang cuba menghalang kebaikan & penyebaran ilmu itu, bermakna aku berada di dalam golongan yang hasad. Kenapa? Kerana aku tidak mahu orang lain melakukan kebaikan melebihi aku, tidak mahu orang lain ilmunya melebihi aku, bimbang-bimbang aku ditegur disebabkan kejahilan aku tersebut.

Teringat aku sesi usrah yang aku sertai satu masa dahulu, seorang sahabatku menyatakan, Imam Ghazali mengatakan yang hasad ini terbahagi kepada 3
1- Seseorang itu mahukan orang yang punyai kebaikan/kelebihan itu lenyap, dan dia mahu kebaikan/kelebihan itu datang kepadanya
2- Seseorang itu mahukan orang yang punyai kebaikan/kelebihan itu lenyap, dan dia mahu menilai dahulu sama ada kelebihan/kebaikan itu sesuai atau tidak dengan dirinya. Sekiranya sesuai, dia akan menerimanya.
3- Seseorang itu, tidak mahu orang lain sama/setaraf atau melebihinya. Dan golongan inilah yang paling teruk berbanding dua golongan yang sebelumnya.

Pernah satu ketika dahulu, aku tergolong dalam mereka yang bersikap hasad ini. Aku tidak mahu mengikuti Tamrin, malah aku mengajak dan menghasut beberapa sahabatku yang lain untuk escape . Aku tidak mahu membaca Ma'thurat selepas Asar, lantas aku mengajak sahabat-sahabatku untuk turun ke dewan bermain badminton seawal yang mungkin. Bukan sahaja aku tidak mahu untuk diriku, malah aku juga tidak mahu sahabat-sahabatku yang rapat denganku untuk beroleh kebaikan tersebut.

Tidak cukup dengan itu, aku berkata belakang... "Pigi dah dia tu...bajet sikah je...tau la KP...padahal dulu time f4 same je dgn aku... Naik f5 mentang2 jadik KP byk bunyik plak..." Mengapa susah untuk aku menerima seseorang itu berbuat sesuatu yang baik, atau seseorang itu berubah kepada yang lebih baik?

Maksud firman Allah :

11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Surah Al-Hujraat : 11)

Sikap aku yang dahulu inilah yang menjadikan golongan dai'e yang MAHU bekerja ini MALU. MALU yang membawa kepada TIDAK MAHU. Adakah aku mahu segala kebaikan aku itu dimakan oleh perasaan hasad seperti mana dalam hadith di atas?

Pernah juga aku berasa tidak lagi mahu untuk beramal dengan amal Islami ini, apabila aku dikatakan seorang hipokrit "Alah, dia tu, ajak orang buat baik, tapi blakang...xyah ckp ar, movie lagha tgk gak.." kerana aku rasakan yang lagha itu lebih mudah dan lebih selesa bagi aku. "Kalo aku terus buat amal Islami, aku kene tinggalkan movie-movie aku ni... xbest la plak...boring2 nnt nk buat ape?" pernah hati kecilku berbunyi sedemikian...

Andai aku berada di dalam golongan yang menyebarkan ilmu, maka Allah dalam ayat yang terakhir Surah Al-'Alaq,menyatakan supaya aku terus meneguhkan hati dan sentiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Sesungguhnya andai terdapat golongan yang cuba menghalangku, maka tiada satu pun yang dapat memberikan mudharat kepadaku (2)

Ya Allah...
Sesungguhnya aku berlindung pada-Mu daripada menjadi hamba-Mu yang engkar ,
Janganlah Kau jadikan aku tergolong dalam golongan mereka yang benci kepada agama-Mu,
Teguhkanlah hati ini agar sentiasa berada dalam jalan dakwah-Mu...

Amiiin...

Wallahu a'alam...

-Syphoon-
Irbid, Jordan
0438 , 12 Zulkaedah 1427



(1) Hadith ke 1569, Riyadhus Solihin - Hadith ini merupakan hadith dhaif
(2) Hadith ke 19, Hadith 40 susunan Imam Nawawi